Senin, 28 Oktober 2013

FF: Here we end chapter 2. My Life



.

.

.

Disclamer        : Pokoknya Naruto bukan punya saya,

Rate                : T-M

Genre              : Dunno’ (but absolutely not Humor).
Warning         : Kemungkinan sifat charanya (mungkin)  nggak sesuai asli. Alurnya sebenarnya suka- suka saya jadi masa bodo ada yang ngeflame. Hohohoho.

by : Githiclolita89



Character

Uzumaki  Naruto / Namikaze Haruki (28 tahun)

Uchiha Sasuke (28 tahun)

Namikaze Menma (7tahun)

Sabaku no Gaara (26 tahun)

Yamanaka Ino (28 tahun)

Tokoh lain menyesuaikan



.

.

.

.

.

.

-Flashback-

Naruto berjalan keluar dari kantor Sasuke. Dengan riang ia melangkah melewati lorong kantor itu. Senyuman dengan setia terukir di bibir tipisnya. Bagaimana tidak,hari ini  tepat 2 bulan sudah ia resmi menjadi ‘istri’ seorang Uchiha meski pernikahan mereka tidak diketahui orang lain.

“Uzumaki-san.”

Mendengar namanya di panggil, secara reflexpun ia menoleh kebelakang. Disana wanita itu,Yamanaka Ino, istri sah dari sang Uchiha bungsu, berdiri di belakangnya dengan perut besarnya. Wanita yang telah merebut Sasuke darinya. Wanita yang sangat dibencinya.

“Uzumaki-san, kebetulan sekali anda kesini. Ada urusan apa?.” Tanya wanita itu. Ia berjalan mendekati Naruto.

“Eh? Ehm, aku mau mengajak Sasuke makan siang tapi sepertinya ia sedang sibuk.” Naruto terlihat salah tingkah. Ia terlihat menggaruk pipinya dengan jari telunjuk. Tidak menyangka pertanyaan itu akan diajukan oleh perempuan ini.

“Begitukah?.”Perempuan itu terdiam. “ Bisakah kau menemaniku makan siang di kantin?.”

“ Mm, baiklah.” Jawab Naruto. Ia sama sekali tidak menyadari niatan lain dari perempuan pirang disampingnya.

Mereka berjalan berdua melewati lorong. Beberapa kaaryawan berpapasan dengan mereka dan memberi hormat.

“Bagaimana kalo lewat tangga saja? Aku sedang tidak ingin naik lift.” Usul Ino. Naruto hanya mengangguk setuju. Saat ditepi tangga, tiba-tiba telpon Naruto berbunyi.

“Hai moshi moshi . . . ok wakatta . . . hmm . . . ok aku segera kesana.” Naruto menutup telponnya.

“Ada apa?.” Tanya Ino.

“Maaf, aku tidak bisa menemanimu makan siang. Aku harus segera pergi. Permisi.” Ia menghadap Ino dan sedikit menunduk untuk memberi hormat. Ia kemudian berbalik dan menuruni tangga. Kaki kanannya melangkah di anak tangga pertama. Kemudian . . .

.

.

.

BRUKKK!!!!.

.

.

.

-Flashback End-

.

.

.

Pria itu terbangun pukul 5 pagi. Ia segera berjalan ke kamar mandi. Ia melihat dirinya di cermin.

“Hmm rambutku sudah memanjang dan catnya sudah mulai memudar. Apa aku harus mampir kesalon hari ini ya?.” Katanya sambil mengusap rambut hitam sedadanya. Ia menyadari bahwa rambutnya sudah memanjang dan perlu mengecat ulang rambutnya karena di akar rambutnya tampak sedikit warna pirang. Warna asli rambutnya. Ia menghela nafas.

“Hhh, harus keluar uang lagi.” Ia kemudian mengikat rambutnya dengan sebuah tali rambut. Ia kemudian membuka kotak kecil di samping kaca kamar mandi yang sengaja ia bawa tadi dari lemari. Ia mengambil sebuah botol dan sebuah wadah lensa kontak. Ia mengambilnya dan memasang kontak berwarna biru kehijauan itu di kedua matanya.

Inilah penampilan Haruki –Naruto Uzumaki- Namikaze, pria berumur 28 tahun dengan rambut hitam dan mata biru kehijauan. Jika dulu kulit Naruto Uzumaki berwarna putih, Haruki justru berkulit tan kecoklatan karena banyak terkena sinar matahari. Bahkan tiga loreng berwarna kecoklatan  dipipinya yang dulu menonjol karena kulit yang putih kini tersamarkan oleh warna kulit tannya. Sepintas ia tersenyum melihat bayangan dirinya di cermin.

‘Dengan begini tidak akan akan ada mengenaliku.’ Ucapnya dalam hati. Bukannya ia terlalu percaya diri. Dia yakin Sasuke tidak akan mencarinya karena sekarang pria itu membencinya tapi ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Menma. Naruto sangat tau sifat pria yang dulu dicintainya itu. Dulu? Ya dulu tapi sekarang entahlah. Sasuke akan membuat orang yang dibencinya menderita dan sekarang Naruto yakin ialah yang dibenci Uchiha bungsu itu. Ia tidak peduli apa yang akan dilakukan Sasuke padanya tapi ia tidak mau Menma merasakan kebencian ayah kandungnya. Naruto tidak mungkin mengatakan pada Sasuke kalau Menma adalah anak kandungnya kan?. Setelah selesai bersiap, iapun keluar dari kamar mandi untuk membangunkan putra semata wayangnya. Disana ia melihat sang putra yang masih tidur padahal tubuhnya sudah disinari matahari pagi.

“Menma ayo bangun.” Pria itu mengguncang tubuh anaknya yang masih tetap setia dalam tidurnya. Bocah itu hanya berguling dan tengkurap. Tidak mengindahkan sang ayah.

“Nghh, 5 menit lagi~~.”Katanya dengan mata terpejam. Dengan lucunya ia malah meringkuk memeluk bantalnya. Haruki lagi-lagi menghela nafas. Bocah ini benar-benar menuruni kebiasaan jelek Uchiha itu namun ia tak hilang akal. Ia mengelitiki perut putranya hingga bocah 6 tahun itu terbangun. “ Gyaaaa!!! Hen- hahaha hentikan – hahaha papaaaaa--- Menma sud-hahahaha -bangun.” Anak laki-laki itu tertawa terbahak-bahak saat papanya menggelitiki perutnya. Naruto ikut tertawa. Setelah yakin anaknya sudah benar-benar bangun. Iapun menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.

“Ayo cepat mandi dan sarapan.”

“Hoamm, Hai.” Anak itu menguap. Beberapa kali ia tampak menggeliat untuk merenggangkan ototnya. Dengan terkantuk-kantuk Ia segera masuk ke kamar mandi.

‘Benar-benar kebiasaan yang menyebalkan.’ Pikir Naruto sambil menghela nafas. Sangat merepotkan untuk membangunkan Menma di pagi hari. Padahal ia sudah menidurkan Menma lebih awal tapi tetap saja bocah itu sulit untuk dibangunkan. ‘Kebiasaan itu sungguh mirip dengannya.’ Naruto sedih saat mengingat nama orang itu. Setelah mandi dan bersiap memakai seragam TKnya, Menma menuju meja makan dan sarapan dengan menu ala jepang- nasi hangat, sup miso, telur gulung dan acar- yang telah disiapkan papanya. Setelah selesai, mereka pun berangkat. Naruto mengantar anaknya ke sekolahnya sebelum ia pergi ke tempat kerjanya.

Sejak 7 tahun lalu ia tinggal disini setelah meninggalkan Konoha ( Yah lagi-lagi Konoha, tapi mau gimana lagi. Apalah arti seorang Naruto tanpa Konoha. hahahaha). Menanggalkan semua identitasnya sebagai Naruto Uzumaki termasuk semua ijasah dan sertifikat yang susah payah didapatkannya sebagai seorang IT berbakat. Untunglah ia masih memiliki otak cerdasnya. Dengan sedikit uang dan manipulasi -menghack dan merubah data pemerintahan seenak udelnya sendiri- sana sini, ia berhasil mendapat identitas barunya sebagai Haruki Namikaze. Pada awalnya ia memang merasa kesulitan menyesuaikan diri dengan hidup barunya. Bagaimana tidak, ia yang biasanya mendapatkan fasilitas lengkap dan mewah sekalipun ia tidak pernah memintanya - Well, bagaimanapun dia adalah kekasih Sasuke Uchiha, salah satu pewaris kerajaan bisnis Uchiaha Corp. Ingat?- harus memulai hidup dari awal dengan bekerja keras membanting tulang hanya untuk makan tanpa identitas dan ijasah untuk mendapat pekerjaan layak. Apalagi saat pertama ia menginjakkan kaki di kota Suna ini, ia dalam keadaan mengandung. What? Mengandung? Nggak salah tulis? Ya nggak dong, kan saya udah nulis kalo ini M-preg J. Saat bercerai dengan Sasuke, Naruto yang notabene LAKI- LAKI NORMAL LENGKAP DENGAN SEGALA PERLENGKAPAN BERTEMPURNYA  sedang hamil hasil kerja keras mereka setiap malam. Yap H-A-M-I-L beneran lo. Bayangkan betapa repotnya ia saat itu. Ia harus mencari sebuah pekerjaan untuk makan setiap hari sedang ia dalam keadaan lemah. Untunglah ia masih memiliki sedikit tabungan sehingga ia mampu menyewa sebuah apartemen kecil dipinggir kota itu. Tidak mewah memang, luasnya bahkan tidak lebih luas kamar tidurnya di apartemen milik Sasuke. Hanya terdiri dari 1 kamar, ruang serba guna, dapur, toilet dan beranda yang menghadap jalan didepan apartemen. Cukup nyaman untuk tinggal 2 orang. Meski murah, lingkungan apartemen itu bersih dan nyaman untuk anak-anak. Masih banyak pepohonan di sekitar kompleks apartemen itu. Oh jangan lupakan juga sebuah taman di dekat apartemen yang selalu di penuhi warna pink lembut setiap musim semi tiba. Tempat yang sangat cocok untuk membesarkan anaknya.

.

.

.

“Haru-chan. Tolong kau periksa laptopku. Sepertinya ada data-data penting milikku yang hilang karena virus. Bisa kau kembalikan datanya.” Tanya pria berambut bitam jabrik itu. Kankurou namanya, kakak dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Ia meletakkan laptop 17 inc itu dimeja Naruto.

“Tentu manager.” Jawab Naruto. Naruto merasa sangat beruntung bisa bekerja di perusahaan ini. Bagaimana tidak? Tanpa ijasah, ia bisa menempati posisisnya saat ini. Semua ini berkat sang direktur muda yang tidak pernah menilai kemampuan karyawannya dari surat-surat dan latar belakangnya. Ia masih ingat saat ia pertama masuk perusahaan ini. waktu itu Menma baru berusia 9 bulan. Ia membutuhkan lebih banyak uang untuk membesarkan Menma apalagi  saat nanti  Menma harus masuk TK. Semua orang jepang tau bahwa biaya pendidikan dan hidup di jepang sangat tinggi. Naruto berniat menyiapkannya dari jauh-jauh hari. Ia tidak mau anaknya tidak dapat hidup layak seperti anak-anak yang lain. Karena itulah ia mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi dari 2 pekerjaan yang dilakoninya saat itu.

-Flashback-

Naruto melamar di perusahaan Shukaku Corporation karena mendengar lowongan Office Boy disana. ‘Perusahaan besar  tentu gajinya lebih besar.’ Pikir Naruto. Dia harus mendapatkan pekerjaan itu demi anaknya. Maka dengan modal nekat dan sebuah surat lamaran yang telah kupersiapkan akupun melamar di perusahaan itu. 

“Ayolah tuan, kumohon terima lamaranku. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini.”

“Maaf tapi kau tidak memenuhi syarat, dan lagi lowongan kerja itu sudah ditutup. Kau terlambat”

“Tolonglah, paling tidak biarkan aku mengikuti tesnya.” Rengeknya pada resepsionis itu.

Shukaku Corp. adalah sebuah perusahaan yang pernah nyaris gulung tikar akibat resesi yang melanda jepang. Kesalahan dalam manajemen dan kekosongan kepemimpinan perusahaan membuat perusahaan itu hancur. Yang Naruto dengar, pemimpin Shukaku corp. Sang Kazekage Sabaku, sudah lama terbaring sakit tak berdaya. Untunglah saat kritis muncul si bungsu Sabaku yang saat itu masih berusia 18 tahun. Berkat kejeniusan sekaligus langkah kontroversial seorang Gaara Sabaku, perusahaan yang nyaris Collaps itu bangkit dengan gagahnya dan menjadi salah satu perusahaan terbesar di Jepang. Walau awalnya banyak yang meragukan kemampuannya, Direktur muda itu dapat mengembalikan kejayaan perusahaan itu dalam waktu kurang dari 3 tahun. Gaara dikenal mampu menilai kemampuan orang hanya dengan sekali melihatnya. ia bahkan tidak terlalu memperdulikan ijasah maupun sertifikat dari bawahannya. Inilah yang membuatnya disegani dan di hormati lawan maupun kawan bisnisnya.
Hari ini Gaara hendak menghadiri rapat direksi bersama sang kakak yang menjabat sebagai Wakil direktur, Temari dan Kankurou yang menjadi direktur pemasaran perusahaan itu. Saat memasuki gedung perusahaannya, ia melihat seorang pemuda yang memiliki wajah baby face berkulit tan sedang bicara dengan resepsionis. Ia tertarik melihat pemuda itu hingga ia menghentikan langkahnya dan memperhatikan pemuda itu beberapa saat.

“Ayolah tuan paling tidak tolong biarkan aku menitipkan surat lamaranku. Siapa tau nanti ada lowongan untukku.”
nemu nih nemu

 Gaara langsung berbicara pada asistennya.

“Apakah ada lowongan Office boy untuknya?.” Katanya pada sang asisten, Matsuri yang ada di sisi kanannya. Matsuri mengerti isyarat yang diberikan oleh Gaara. Iapun mengangguk kemudian ia menelpon bagian personalia untuk menerima lamaran pemuda berambut hitam itu sebagai office boy.
Naruto bekerja dengan giat. Ia tidak mau melepaskan pekerjaan yang susah payah didapatnya ini. ini semua demi Menma anaknya. Haruki bahkan tidak menyadari ada orang yang selalu memperhatikan gerak geriknya sejak hari pertama ia bekerja di perusahaan itu. Untunglah ia mendapat rekan kerja yang baik dan ramah hingga iapun mulai betah.

Suatu hari, Naruto mengantarkan minuman ke departemen IT di perusahaan itu seperti biasa. Tidak seperti biasanya. Orang-orang dari departemen IT itu sedang gempar. Agaknya ada hacker yang sedang mencoba menyusup ke data perusahaan itu. Para orang IT tampak kewalahan.

“Ada apa sih?.” Tanya Naruto dengan wajah innocentnya.

“Ah! Haruki. Bawa kemari kopiku. Aku tidak bisa bekerja tanpa kopi.” Kata salah seorang IT enginer yang kini mejanya di kerubungi karyawan lain. Nara Shikamaru namanya. Salah satu IT jenius yang berhasil direkrut oleh sang Sabaku muda. Dengan susah payah Haruki membawa kopi pesanan Shikamaru karena banyaknya orang yang mengelilingi  mejanya.

“Bagaimana?.” Tanya Kankurou yang ada di sisi kanan meja Shikamaru.

“Ck, mendokusai. Orang ini benar-benar pro. Aku kesulitan menangani virus yang dikirimkannya.” Katanya sambil menyesap kopinya dengan tenang.

“Lalu bagaimana? Bahaya jika dia berhasil membobol keamanan kita.” Kata kankurou khawatir.

“Aku sedang berusaha. Tolong jangan ganggu aku.”

Kankurou mengangguk. Ia kemudian diam dan berusaha tidak mengganggu Shikamaru. Ia juga menginstruksikan karyawan lain untuk kembali kemeja masing-masing dan membantu Shikamaru sebisanya dengan menghalau virus yang ada. Haruki yang ada di belakang Shikamaru terus menatap layar monitor itu dengan serius. Dia bahkan tidak menyadari saat Kankurou menepuk bahunya.

“Haru-chan ada apa?.” Kankurou tau nama seorang office boy seperti Naruto? Tentu saja ia tau. Kenapa? Alasannya mudah. Karena Gaara yang biasanya tidak memperdulikan orang di sekitarnya memperhatikan pemuda manis yang ada di depannya ini. Pasti ada sesuatu yang membuat Gaara memperhatikan Haruki sampai seperti itu. Sejak kemunculan Naruto, entah kenapa Gaara menjadi seperti stalker. Ia bahkan menyewa beberapa detektif untuk menyelidiki latar belakang Naruto. Yang Kankurou tahu hanyalah bahwa Haruki seorang duda dengan satu anak balita.

“Ah! Eh oh ti-tidak. Hanya . . .”

“Hanya?.”

Naruto menggeleng. Ia kemudian membungkuk pada Kankurou dan berniat pergi dari ruangan itu. Tapi belum beberapa langkah, lengannya ditarik kembali kebelakang meja Shikamaru. Gaara menyeretnya kembali ke ruangan itu.

“Shika. Minggir.” Katanya datar. Shikamaru pun berdiri dari tempat duduknya dan berdiri di samping Gaara. Gaara lalu menyeret Haruki dan menyuruhnya duduk di tempat Shikamaru. “ Duduk.”

“Eh? Eh?.” Naruto tampak kebingungan. Ia hanya bisa menuruti kata-kata bosnya.

“Hei Gaara apa yang kau lakukan?.” Tanya Kankuro. Baru kali ini ia melihat adiknya seperti itu.

“Kau bisa melakukannya kan, jenius?.”

“A-apa maksud anda Direktur. Saya tidak mengerti.” Kata Naruto pura-pura tidak mengerti.

“Lakukan atau kau kupecat. Aku tau siapa dirimu.” Katanya datar.

Naruto mengernyitkan alisnya. Mungkinkah ia tau siapa Haruki? Tidak, Sabaku bungsu tidak mungkin mengetahui siapa dirinya. Bahkan temannya dulupun mungkin tidak akan bisa mengenali dirinya saat ini. Naruto ragu, tapi ia tau sabaku bungsu itu tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Memang, beberapa hari setelah bekerja disini. Ia selalu merasa ada orang yang membuntutinya kemanapun ia pergi. Tidak bukan hanya merasa, ia bahkan  sudah menyadarinya. Ia pernah sekali memergoki ada orang yang membuntutinya. Awalnya ia mengira orang itu adalah suruhan Uchiha yang sudah berhasil menemukannya tapi sekarang ia jadi berpikir mungkinkan orang itu adalah suruhan dari sang direktur muda.

Naruto mulai berkeringat dingin.

“Oi, apa-apaan kau Gaara. Kasian Haru-chan jika kau bersikap begitu.”

“Berisik!.” Balas Gaara dingin. “ Kuberi kau waktu 5 menit untuk membereskannya.”
Ruangan itu jadi hening.

“Sudahlah kasian kan Haru-. . .” kata Kankurou

“Hei lihat!.”

.

.

.

-Naruto/Haruki POV-

Oh, shit mengapa ini terjadi padaku.

Lagi-lagi Aku tidak punya pilihan. Aku memejamkan mataku lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.

Ini semua demi Menma.

Entah apa yang kupikirkan. Tanganku bergerak dengan sendirinya. Menari-nari di atas keyboard berwarna hitam itu dengan cepat. Aku bahkan tidak ingat apa yang sedang kulakukan. Aku dapat merasakan mereka semua sedang menatap apa yang sedang ku kerjakan. Layar monitor yang tadinya berwarna hitam dengan sediri tulisan berwarna putih kini dipenuhi dengan huruf dan angka yang mungkin banyak orang tidak mengerti. Ya inilah yang disebut bahasa pemrograman. Bahasa C, induk dari semua bahasa alat digital yang ada didunia ini. bahasa yang dulu kupelajari dengan sungguh-sungguh saat aku kuliah dulu.

Spy detect.

Clean all database

Confirm Attack

Spyware Check

Worm Check

Trojan Check

Damage Report 80%

50%

20%

10%

0

Congratulation

Belum sampai 5 menit semua sudah selesai. Aku menarik napas dalam-dalam lagi. Setelah ini apa yang harus kulakukan? Sasuke pasti tau kalau aku disini.

“Kau hebat Haru!!!.”

-End POV-

.

.

“Kau hebat Haru-chan. Darimana kau belajar itu?.”

“He? Ah aku sering baca buku jadi . . .” Bohongnya er- nggak sepenuhnya bohong sih kan Naruto emang sudka baca buku.

“Tidak kusangka kau sangat pintar. Ternyata adikku tidak salah menilaimu.”

“Em. . .” Naruto mengalihkan pandangannya pada Gaara yang sejak tadi diam. Pandangan mereka pun bertemu.

“Gaara, darimana kau tau bahwa Haru-chan menguasai komputer.” Tanya Kankurou.

“Siapa bilang aku tau. Aku hanya menjahilinya sedikit kok.” Jawab Gaara dengan wajah datar nan innocentnya. Semua orangpun bersweatdrop ria mendengar jawaban jujur dari sang Sabaku muda.

‘Oh demi Jashinnya si Hidan, kenapa kau beri wajah malaikat pada seorang iblis?.’ Kata mereka dalam hati.

“Jadi kamu tidak serius waktu bilang mau mecat Haru-chan.”

“Siapa bilang?.” Jawab Gaara tanpa wajah bersalah. “ Aku serius kok. Soalnya aku nggak butuh Office boy.” Katanya sambil berlalu. Ia berjalan pintu. Sebelum keluar, ia menoleh kearah sekumpulan orang yang masih membatu memandangnya. “Oh ya. Mulai hari ini. kau kupecat dari departemen umum. Dan mulai hari ini juga kau akan bekerja bersama Shikamaru di IT departemen.” Katanya dengan senyum malaikatnya. Sama sekali tidak ada rasa bersalah diwajah porselen itu.

‘Akh!!! Aku membencimu dewa Jashinnya si HIdan.’ Kata mereka dalam hati serempak.
Gaara pun melenggang pergi dengan riang?.

‘Dia . . . . menyebalkan.’ Itulah image Gaara saat ini di pikiran Naroto. Menggantikan imagenya selama ini sebagai direktur bijaksana dikepala Naruto.

Sejak hari itulah Naruto sadar akan sifat Gaara yang sebenarnya. Usil, jahil dan tengil, sama seperti anaknya Menma. Ah ia tidak akan lupa bahwa Gaara 2 tahun lebih muda darinya. Tuhkan beneran masih anak kecil.

-End Flashback-

Naruto hanya bisa tersenyum saat mengingat kejadian 6 tahun lalu. Sejak itulah ia bekerja di perusahaan ini. ia bersyukur karena bisa menghidupi Menma dengan layak tanpa bantuan siapapun.

.

.

.

“Ten-san. Siapkan tiket pesawat untuk ke Suna untuk besok lusa. Aku ada meeting dengan Direktur Shukaku Corp.”

“Baik.” Gadis dengan dua cempol dikepalanya itupun menunduk lalu keluar dari ruangan atasannya. Meninggalkan bosnya yang tampan itu.

.

.

.

~TBC (Lagi?)~






Tidak ada komentar:

Posting Komentar