Tampilkan postingan dengan label Here We End. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Here We End. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Maret 2014

FF. Here We End Chapter 5. Insane




.

.

.

Disclaimer      : Naruto is not mine. I just borrow the name.

Rate                : M

Genre             : Hurt, family,Mpreg, etc.

Warning         : Ending tergantung mood. EYD yang nggak jelas, OOC, BoysxBoys, banyak typonya. Mpreg

Mpreg on real life basically impossible at this time but possible on fanfic. So don’t be too rush ‘bout biology, OK? It only my imagination.

Don’t like don’t read.

Purely made by : Gothiclolita89.

.

.

Chara

Uzumaki Naruto (Namikaze Haruki (28 tahun)

Uchiha Sasuke (28 tahun)

Namikaze Menma (7 tahun)

Sabaku no Gaara (26 tahun)

Yamanaka Ino (28 tahun)

Sabaku no Kankurou

Nara Shikamaru

Konan Edogawa :3 #plakkk dijitak reader. Oh salah Konan doank dink.

Zabusa (Uzumaki) Karin.

Zabusa Suigetsu.

Juugo

@_@ wah banyak cast baru nih

.

.

.

.

.

.

Kebahagiaan

Apakah kebahagiaan itu ada? Apakah aku boleh berharap untuk kebahagiaanku? Apakah aku dapat egois memperjuangkan kebahagianku? Apakah aku . . .

.

.

.

Chapter 5. Insane

.

.

.

Prang!!!!

Brakk!!!!

Wanita itu membanting semua benda yang ada didekatnya. Melampiaskan segala kemarahannya pada vas-vas mahal yang tidak berdosa itu. Tidak sayang? Tentu saja tidak, berapapun vas mahal yang ia pecahkan, keluarga Yamanaka tentu bisa membeli vas baru lagi. Para pelayan tidak ada yang berani mendekatinya apalagi melarang majikannya itu. Mereka tentu tidak mau menggantikan vas-vas itu.

“Tidak! Tidak! Tidak! Sasuke adalah milikku. Tidak ada yang boleh memilikinya selain aku!.”

Wanita pirang selalu tampak cantik dan anggun itu kini tampak sangat kacau. Airmata kini menghiasi wajah cantik yang terlihat pucat itu. rambut pirang kebanggaannya yang selalu tergerai rapi dan halus kini tampak berantakan. Dia, putri tunggal Yamanaka Inoichi terlihat benar-benar mengerikan. Obsesinya pada sang Uchiha bungsu membuatnya tampak begitu menyedihkan.

Sejak bercerai dari Sasuke, Ino memang sering mengamuk tanpa sebab. Bahkan ayahnya sempat menghubungi psikiater saat dia di luar negeri dulu. Tapi sepertinya itu sama sekali tidak membantu justru membuat obsesi Ino makin besar pada manta suaminya.

“Sasuke hanya boleh bahagia denganku, dengan Yamanaka Ino, tidak tidak. . . Uchiha Ino . . . nama itu lebih cocok untukku hahahaha. Uchiha Ino.”

Wanita itu tertawa keras. Membuat seluruh penghuni mansion mewah Yamanaka ketakutan. Satu yang ada dipikiran para pelayan itu . . .

.

.

Bahwa wanita itu sudah gila.

.

.

.

Di sebuah ruangan gelap, seseorang sedang menatap intens layar monitor yang menyala itu.

“I-ini?.” Matanya tampak membulat. “Tidak salah lagi.”

.

.

.

Tut Tut Tut

“Moshi-moshi, Sasuke, ini Itachi. Kalo kau mendengar panggilanku segera hubungi aku. Ada masalah penting yang ingin kubicarakan denganmu. . . Tentang wanita gila itu.”

Tut Tut Tut

.

.

.

Haruki tidak bisa tidur malam ini. Matanya enggan menutup walau jam weker di meja sudah menunjukkan angka jam satu. Waktu dimana seharusnya seluruh manusia di dunia sudah terlelap dengan berselimut mimpi indah. Tapi tidak dengannya. Ia terlalu cemas dan gugup untuk bisa tertidur. Bagaimana ia bisa tidur jika hatinya tidak tenang? Bagaimana dia bisa tidur jika dia tahu ada bahaya yang sangat besar tengah mengancamnya dan Menma?.

Bahaya?

Ya, bahaya. Siapa lagi kalau bukan si Uchiha bungsu.

Dia merasa ketakutan kalau-kalau sang Uchiha tau siapa dirinya yang sebenarnya. Tidak, ia tidak peduli dengan nasibnya. Tapi bagaimana dengan Menma? Anak itu tidak bersalah tapi apa Sasuke akan peduli? Jawabannya tidak, pria raven itu tidak akan peduli selama itu berhubungan dengan orang yang dibencinya. Ia akan menghancurkannya sampai akar.

Haruki melirik anaknya yang tertidur pulas disampingnya. Ia tersenyum tenang saat melihat wajah damai Menma yang sedang tertidur lelap. Ia mengusap rambut hitam Menma kemudian mengecup dahinya dengan sayang.

“Jangan khawatir Menma, apapun yang terjadi papa akan selalu menjagamu.”

Haruki menyamankan dirinya dan memeluk Menma. Perlahan kelopak mata tan itu menutup. Ia membiarkan dirinya terhanyut dalam mimpi bersama sang putra.

.

.

.

Tes

.

.

Tes

Tes

.

.

Tes

Tes

Tes

.

.

Pemuda pirang itu berlarian kesana kemari dengan panik. Kemanapun ia melangkah, ia tidak melihat apapun. Hanya kegelapan. Secepat apapun kakinya berlari hanya kegelapan yang mengelilinginya. Ia merasa ketakutan. Kemana semua orang? Ini dimana? Apa yang terjadi?.
Ia meringkuk. Menenggelamkan kepalanya diantara kedua kakinya.

Putus asa.

Lelah

Frustasi

Itulah yang dirasakannya sekarang. Ia tidak suka ini. Ia tidak suka keheningan ini. Kesunyian ini terasa begitu menyakitkan, menyesakkan. Membuatnya tidak bisa bernafas.

‘What are ya doin’ here?’

Pemuda itu menoleh dengan cepat saat ia mendengar suara dari belakang punggungnya. Sejenak kemudian matanya birunya membulat. Seorang anak kecil dengan perawakan dan wajah mirip anaknya, Menma, berjalan mendekatinya. Bedanya jika Menma memiliki rambut hitam dengan mata biru maka anak itu memiliki rambut dan mata berwarna merah mencolok. Oh, jangan lupakan seringaian licik yang terukir indah di bibirnya.

‘Thought ya foget me. Don’t ya, Naruto?’

Pria pirang itu terdiam sebentar.

“Kyu-nii. . .” lirihnya.

Anak itu melebarkan senyumnya.

.

.

.

Seperti biasa, Sasuke terbangun sebelum sang surya menampakkan dirinya. Entahlah, selarut apapun ia tidur, ia selalu terbangun di waktu yang sama. Jika diingatnya lagi kebiasaan ini dimulai sejak ia kehilangan belahan jiwanya. Seseorang yang telah ia lukai terlampau dalam karena kebodohannya. Ia hanya berharap untuk bisa ia dipertemukan lagi dengan Naruto. Agar dia bisa menebus semua kesalahan bodohnya dimasa lalu.

Sasuke melangkahkan kaki ke dapur modern minimalis apartemen mewahnya. Ia berencana membuat sarapan sederhana untuk dirinya. Untunglah kemarin ia sempat meminta asistennya untuk belanja bahan makanan. Roti bakar, telur mata sapi serta sepoci kopi hitam, some like American style breakfast, is it?. Sasuke memasukan roti itu kedalam mulut dan menguyahnya pelan. Ia menyeruput kopi hitam kesukaannya itu.


Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Hei, sudah kubilang jangan minum kopi itu banyak-banyak. Tidak baik buat perutmu.”

“Hn.” Sasuke seolah tidak peduli dan kembali menyeruput kopi hitamnya sambil membaca buku yang baru saja dibelinya dengan hikmat.

“Temeeee!!!.” Naruto berteriak kesal karena merasa diacuhkan. “Kau taukan kalo kau kebanyakan minum kopi, nanti kamu bisa berubah jadi bodoh trus nanti kau juga akan jadi botak dan keriput. Tidakkkkkkkk!!! Aku tidak mau punya pacar botak dan keriput.” Teriaknya lebay.

“Pfftt, hahahahaha.” Sasuke tertawa keras mendengar perkataan kekasihnya. “Dasar Dobe hahahaha. Darimana kau dengar hal bodoh seperti itu.”

Naruto merengut kesal mendengar hinaan kekasihnya. Sasuke tersenyum dan mengecup pipi tembem itu.

“Temeee!!!.”

Sasuke tersenyum saat mengingat kenangan indahnya bersama Naruto. Setelah selesai sarapan dan bersiap-siap, Sasuke menyambar kunci mobil dan menjalankannya dengan cepat ke suatu tempat.

Sementara itu di tempat lain.

“Papa ayo cepat. Menma sudah terlambat.”

“Aish iya-iya.” Haruki buru-buru mengenakan sepatunya sementara sang anak berkacak pinggang di depannya dengan wajah yang ditekuk, berusaha menunjukkan bahwa ia sedang kesal. Menma mengenakan seragam TK berwarna biru lengkap dengan topi dan tas ransel kecilnya, oh jangan lupakan botol minuman Batman kesayangan yang melintangi tubuh mungilnya.

‘Sial! Gara-gara bangun kesiangan nih.’

Tidak seperti biasanya, hari ini Haruki terlambat bangun akibatnya pasangan ayah anak itu terburu-buru pergi kesekolah dan tempat kerja. Haruki menuruni tangga lantai dua menuju lantai satu dan langsung menyambar sepedanya yang terparkir di area parkir apartemen sederhana itu. Sepeda itu jarang ia gunakan saat berangkat kerja karena Haruki dan Menma lebih sering memilih jalan kaki tapi hari ini adalah pengecualian.

“Pegang yang erat ya. Kita akan cepat ke sekolahmu.”

Ia mendudukkan Menma di jok belakang dan langsung memacu kencang sepedanya. Menma mengangguk dan mengeratkan pegangannya ke pinggang Haruki. Mereka berdua tidak menyadari bahwa ada sebuah mobil hitam yang sedari tadi mengikuti mereka. Mobil itu mengikuti sepeda Haruki diam-diam. Tidak ingin ketahuan oleh pria bermata tosca itu. Seulas senyum tampak terlihat di wajah sang pengemudi kala melihat keakraban pasangan ayah dan anak Namikaze.

.

.

.

-Sasuke POV-

Here I go again. Di sinilah aku sekarang membuntuti seorang pria beranak satu yang baru saja kukenal satu hari yang lalu. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak mengerti kenapa aku mengikutinya. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa merasa telah lama mengenalnya. Dan juga ada sesuatu lain yang kurasakan, seperti . . .

Ah sudahlah.

Itu sama sekali tidak penting.

Ah itu dia, dia keluar dari apartemen kecilnya dengan sepeda yang menurutku sudah jelek. Astaga! Bagaimana dia bisa mengendarai rongsokan itu dengan seorang bocah kecil yang sedang memeluk pinggangnya. Apa dia tidak tau kalau itu berbahaya? Bagaimana jika anaknya jatuh? Atau jika terseret mobil?. Dasar ceroboh.

Aku mulai menjalankan mobil mewahku dengan perlahan. Berusaha mengikuti agar tidak diketahui olehnya. Tunggu dulu! Apa yang sebenarnya ingin kulakukan? Dahiku mengerut. Bagaimana bisa aku mengikuti orang yang baru saja ku kenal? Aku bahkan belum mengenalnya.

Tanpa kusadari, sepeda yang dinaiki Haruki berhenti di sebuah TK. Ia menurunkan Menma dari sepedanya. Setelah  anak itu masuk sekolah, Haruki langsung menaiki sepedanya menuju ke arah kantor.

-End POV-

Sasuke berhenti di dekat Tk itu. setelah sepeda Haruki menjauh baru kemudian ia menyalakan mobilnya.

.

.

.

Tiga asisten Sasuke sudah siap di kantor Shukaku corp. Mulai hari ini mereka akan menempati kantor sementara mereka selama tiga bulan di perusahaan itu. Yah meski di bilang kantor sementara tapi yang sebenarnya adalah mereka berbagi dengan bagian IT sedang Sasuke akan berbagi ruangan dengan Kankurou untuk sementara. Mereka berangkat lebih awal guna menyiapkan keperluan selama mereka berada disini. Semua harus sempurna jika mereka masih ingin bekerja pada Uchiha bungsu. Sasuke mmemang selalu menekankan pada bawahannya bahwa dia tidak menerima kesalahan sekecil apapun. Keluarga Uchiha memang terkenal pekerja keras begitupun Sasuke. Pria yang hampir berusia 30 tahun itu seorang workholic dan selalu lupa waktu jika sudah bekerja. Menurut karyawan lain, Sasuke berubah seperti itu setelah perceraian dengan sang istri dan kehilangan calon anaknya di waktu yang hampir bersamaan. Membuat Uchiha bungsu lebih menyibukkan diri dalam pekerjaan untuk melupakan masalahnya, begitu menurut orang lain. Dan Sasuke selalu berganti asisten beberapa kali sebulan karena banyak yang tidak tahan dengan jam kerja dan tekanan yang dibebankan pada mereka.

Tapi benarkah?

“Ohayou~~~.”

“Ah ohayou Haru-chan.” Jawab Konan dan Haku serempak.

“Tumben kau telat.” Kata Haku.

“Etto, aku kesiangan bangun.” Jawabnya malu-malu. Mereka tertawa mendengar jawaban Haruki.

Karin memperhatikan kawanan tiga serangkai itu dari mejanya. Entahlah, ada sesuatu yang membuatnya ingin melihat kearah pemuda berambut hitam itu.

“Karin.” Panggil Suigetsu.

“Hum?.” Karin menolehkan kepalanya kearah suara yang memanggilnya.

“Kenapa? Dari tadi kau memperhatikan mereka terus?.” Tanya Suigetsu dengan nada sedikit tidak suka. Ia sadar pandangan mata istrinya tertuju pada pemuda yang baru saja datang. Haruki Namikaze, sejak pertama mereka datang ke perusahaan ini, ia sadar bahwa istrinya itu tertarik pada pria muda berkulit tan. Ia takut jika Karin berpindah ke pria itu. Berlebihan memang, tapi itu semata-mata karena dia terlalu mencintai istrinya.

Karin tersenyum menanggapi kecemburuan suaminya. “Tidak, hanya saja . . .” Karin mengalihkan pandangannya ke Haruki yang sudah duduk di mejanya dan mulai bekerja. Suigetsupun turut memandang Haruki yang kini tengah sibuk dengan komputernya. “Ettou, hanya saja namanya seperti pernah kudengar sebelumnya.”

“Nama?.”

“Tapi aku tidak bisa mengingatnya.” Kata Karin sembari mengerutkan dahinya. Entahlah, sekeras apapun dia berpikir, dia sama sekali tidak bisa mengingatnya. Padahal biasanya ingatan Karin sangat bagus. Wanita berambut merah menyala itu hampir tidak pernah melupakan sesuatu yang pernah di baca atau di dengarnya.

“Tumben sekali.” Timpal Juugo yang ada di samping pasutri aneh itu.

Namikaze

Karin yakin pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi dimana? Itulah yang tidak dia ingat. Ia mengangkat bahunya.

‘Ya sudahlah. Mungkin bukan sesuatu yang penting.’ Katanya dalam hati

Ck ck. Karin, Karin.

Padahal hal yang kau lupakan itu adalah hal penting loh.

Hari beranjak siang. Kini kedua jarum jam telah menunjuk angka 12. Saatnya para karyawan mendapat waktu istirahat dan makan siang. Konan dan Haku merapikan mejanya yang terlihat berantakan. Setelah selesai, mereka berdua menghampiri meja Haruki.

“Haru-chan, mau ke kantin sama-sama?.” Ajak Konan sembari menghampiri meja Haruki. Pemuda manis berambut hitam itupun menoleh.

“Ah iya, aku ingin beli roti.” Ucapnya sambil berdiri.

“Roti? Biasanya kau kan bawa bekal?.” Tanya Haku yang kini berdiri di samping gadis berambut biru itu. Sebelah alisnya teangkat, tanda bahwa ia sedang penasaran. Setahunya Haruki selalu membawa bento sendiri. Agar lebih hemat katanya, maklumlah ia punya tanggungan seorang anak jadi dia harus berhemat secermat mungkin demi masa denpan anaknya.

“Um, aku kesiangan.” Katanya sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak terasa gatal. Ia tersenyum canggung.

“Oh.”


Jam makan siang sudah tiba, Kankurou merengganggakan tubuhnya yang kaku karena berkutat di depan komputernya sejak pagi. Ia menoleh sang Uchiha yang masih sibuk dengan laptopnya. Sejak hari ini, untuk sementara waktu selama 3 bulan ke depan, ia akan berbagi ruangan dengan Uchiha Sasuke. Iapun menghampiri meja Sasuke untuk mengajaknya makan siang.

“Uchiha-san.” Panggilnya. Sasuke mendogakkan wajahnya untuk menatap Kankurou yang kini berdiri di depan mejanya. “ Sudah jam makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang dulu.?”

“Hn, terima kasih tapi nanti saja. Silahkan anda duluan saja, Sabaku-san.”

“Baiklah kalau gitu, kalau kau mau menyusul kantin ada di lantai satu.”

Kankurou segera meninggalkan ruang kerjanya untuk makan siang. Selepas kepergian  Kankurou, sasuke menyandarkan tubuhnya ke kursi tinggi miliknya. Ia memutar kursi itu dan melihat pemandangan kota Suna dari lantai 20 peruasahaan Shukaku corp. Masih teringat pembicaraannya dengan Itachi dari malam.

-Flashback-

Sasuke menuangkan cairan berwarna merah itu kegelas tinggi yang sudah ia siapkan di meja. Malam ini adalah malam pertamanya berada di Suna. Ia menyesap cairan merah pekat itu sambil menikmati pemandangan malam dari jendela apartemen mewahnya. Ia memijit-mijit kepalanya. Bagaimana tidak, sekali lagi anak buahnya melaporkan bahwa mereka belum menemukan Narutonya. 8 tahun, sudah 8 tahun dia mencari tetapi sampai sekarang ia sama sekali belum menemukan titik terang keberadaan sang pujaan hati.

Sasuke menghela napas.

Apa ia harus menyerah?

Apakah mereka memang tidak ditakdirkan bersama?

Ia meminum cairan merah itu dalam sekali teguk kemudian mengisi kembali gelasnya.

Tut Tut Tut

“Moshi-moshi, Sasuke, ini Itachi. Kalo kau mendengar panggilanku segera hubungi aku. Ada masalah penting yang ingin kubicarakan denganmu. . . Tentang wanita gila itu.”

Tut Tut Tut

Awalnya ia ingin mengabaikan telpon itu. Tapi saat mendengar nama perempuan itu di sebut, ia berubah pikiran. Ia terigat pada nona muda Yamanaka yang sempat menjadi istrinya itu. yang bertanggung jawab atas penyesalannya saat ini. Yang dengan tidak tau malunya masih mengejar-ngejarnya sampai saat ini.

“Moshi-moshi.”

“Sasuke?.”

“Hn, ada apa kau menghubungiki Tachi.”

Che, yang sopan sedikit dengan Aniki-mu ini. Panggil aku Nii-san.

“Hn.”

Ck.” Itachi mendengus kesal. “ Aku ingin memberi taumu bahwa mantan istrimu tadi datang kemari.

“Ino?.”

Siapa lagi?.”

“Mau apa dia?.”

Dia berusaha menghasut Kaa-san agar kau bisa kembali padanya.”

“Cih dasar tidak tau malu.”

Hati-hatilah Suke. Meski aku yakin baik Kaa-san atau Tou-san tidak akan menyetujui kau kembali padanya. Tapi kau tetap harus hati-hati. Dia itu wanita licik. Dia bisa melakukan apapun untuk mendapatkanmu.”

-Flashback End-

Sasuke memikirkan kata-kata kakaknya tadi malam. Jika benar yang dikatakan kakaknya tadi malam, berarti ia harus bersiap-siap menghadapi wanita licik itu.

Tok tok tok.

“Yo! Suke-chan.” Suigetsu langsung menerobos masuk. Karin dan Juugo berada di belakangnya sambil menggelengkan kepalanya  saat melihat kelakuan Suigetsu.

“Berani kau memanggilku seperti itu. akan kupastikan kau di depak dari Uchiha corp. juga jepang.” Katanya sambil mendeathglare Suigetsu.

“Hahahaha.” Sayangnya pria berambut putih itu sama sekali tidak gentar.

“Suke-kun, kami membawakan makan siang untukmu.” Kata Karin seraya meletakkan bungkusan berwarna coklat diatas meja kerja Sasuke.

“Hn.” Sasuke hanya menanggapinya datar.

“Makanlah, akan sangat merepotkan jika kau sakit di sini.” Kata Juugo. Pria berambut orange itu sudah mengaggap Sasuke sama seperti keluarganya. Juugo adalah seorang yatim piatu. Sejak kecil, ia tinggal di panti asuhan. Ia hanya lulusan SMA dengan nilai pas-pasan. Ia tidak berharap mendapat pekerjaan yang bagus dengan kemampuan akademiknya. Tapi takdir berkata lain  saat ia dipertemukan dengan Sasuke. Entah apa yang dilihat pemuda raven itu padanya hingga ia langsung diangkat sebagai salah satu asisten pribadi presdir muda itu.

“Kau . . . masih mencarinya ya?.” Tanya Karin.

Sasuke memandang Karin sejenak lalu mengalihkan pandangannya kea rah jendela. Ia tersenyum miris.

“Bagaimana aku tidak mencarinya jika dia adalah cintaku. Dia membawa hati dan jiwamu bersamanya. Ia menghilang. Itu semua karena kebodohanku.”

“Sasuke . . .” lirih Karin. Awalnya ia merasa marah saat tau apa yang pria raven itu lakukan pada sepupunya tapi saat melihat keadaan Sasuke. Dia justru merasa kasian.

“Tenanglah suatu saat kalian pasti akan bertemu lagi.”

.

.

.

Inoichi memasuki manshionnya. Ia disambut oleh beberapa pelayan.

“Bagaimana keadaan Ino?.”

“A-anu tuan. Nona Ino mengamuk dan kami tidak berani mendekati kamarnya.” Kata salah seorang pelayan.

“Apa?.”

Inoichi langsung melangkahkan kakinya ke lantai 2 menuju kamar putri kesayangannya, Ino. Ia membuka pintu berwarna putih yang dihiasi ornament emas. Inoichi sangat terkejut saat melihat keadaan kamar putrinya. Kamar itu benar-benar hancur. Apakah ini perbuatan Inonya yang manis dan penurut?.

“Ino sayang.”

“Pergi!! Pergi!!!.” Teriak Ino histeris. Wanita itu tampak mengerikan dengan rambut acak-acakan. Penampilannya sekarang benar-benar sedah seperti orang gila.

“Ino sayang. Ini ayah.”

“Ayah?. Ayah.”

“Ya ayah sayang.” Inoichi memeluk putrinya yang dalam keadaan mengerikan.

“Ayah. Sasuke meninggalkanku hiks. Aku mencintainya ayah . . . “

“Ya ayah tau.”

“Apa yang harus kulakukan ayah? Aku ingin Sasuke. Aku ingin Sasuke. Hiks hiks.” Ino mencengkram jas yang dikenakan ayahnya. “Bantu aku mendapatkan Sasukeku kembali. Aku tidak bisa hidup tanpanya.”

“Ino. . .”

“Aku akan mati tanpa Sasuke. Aku tidak mau hidup tanpa dia.”

Inoichi menatap miris kepada putrinya. Putrinya yang dulu manis kini berupah menyedihkan seperti ini. Apa yang harus dia lakukan untuk mengembalikan Ino seperti dulu?.

“Baiklah, ayah akan membantumu.”

.

.

.

 -TBC-

.

.

.

Hello meet me again. This Stupid-a-bit-Crazy-girl Gothiclotita89 ^_^

Gomenne masih adakah yang nungguin ff  gak mutu ini?

Well, thanks kalo masih ada  hehehe.

Gak nyangka kalo ada yang baca ni FF (Kirain Cuma Dee-chan aja yang baca).

Is it too short?. Jangan bilang pendeknya (TT_TT)

Ini aja ngetik sampe 20 halaman di ms word.

Last but not least.

Thanks buat yang RnR ff saya dan sekali lagi maaf kalo saya update lama. Sudah dari awal saya bilang kalo saya orang yang agak lemot ngetik n moodian jadi yang gini deh. Tapi saya akan tetep nulis ini sampe end ^_^

So don’t worry.

.

.

.


Selasa, 31 Desember 2013

FF Here We End Chapter 4. Who are you?




.

.

.

Disclaimer      : Naruto is not mine. I just borrow the name.

Rate                : M

Genre             : Hurt, family,Mpreg, etc.

Warning         : Ending tergantung mood. EYD yang nggak jelas, OOC, BoysxBoys, banyak typonya.

Don’t like don’t read.

Purely made by : Gothiclolita89

.

.

.

Chara

Uzumaki Naruto (Namikaze Haruki (28 tahun)

Uchiha Sasuke (28 tahun)

Namikaze Menma (7 tahun, maaf dichapter kemarin loli salah nulis umurmu 6 tahun)

Sabaku no Gaara (26 tahun)

Yamanaka Ino (28 tahun)

.

.

.

.

.

.

“Ada apa Kankurou-san?.” Tanya Shikamaru selaku ketua tim IT.

“Ah ya perkenalkan mereka ini dari Uchiha Corp. Sementara mereka akan berkantor di gedung ini selam 3 bulan kedepan. Kuharap kalian memberi hasil kerja terbaik. Iya kan Uchiha-san.”

“Kalau begitu mohon kerjasamanya.” Pria berambut raven itu mengeluarkan senyum penuh pesonanya. Ia mengedarkan pandangannya ke anggota IT hingga ia menangkap sosok yang dia kenali.

‘Ah dia kan. . .’

.

.

.

Chapter 4. Who are you?.

.

.

.

-Naruto POV-

Kenapa?

Kenapa dia muncul lagi saat aku sudah bahagia?

Kenapa takdir begitu senang mempermainkanku?.

Tidak tidak tidak. Kau harus tenang Naruto.

Dia tidak mungkin mengenalimu.

Dia tidak akan mengenali penyamaranmu yang sempurna.

-End Naruto POV-

.

.

-Sasuke POV-

“Kalau begitu mohon kerjasamanya.”

Ah, dia . . .

Aku melihat wajah itu. Wajah yang kulihat tadi malam.

Wajah yang anehnya membuatku tertarik.

Entahlah, aku seperti mengenalnya.

Tunggu dulu!

Kenapa ia tampak begitu pucat?

Apa dia sakit?

Er- atau takut padaku?

Tapi kenapa?

-End Sasuke POV-

.

.

“Karena itu mohon kerjasama kalian untuk 3 bulan kedepan. Aku sungguh berharap kalian bisa menunjukkan hasil kerja terbaik selama Uchiha-san ada di perusahaan kita.”

Naruto terus menundukkan kepalanya. Dia tidak berani melihat Uchiha itu karena takut rahasianya terbongkar. Naruto terlihat pucat dan nampaknya bukan hanya Sasuke yang menyadari hal itu.

“Haruki, kau tidak apa-apa?.”

“Apa kau sakit? Wajahmu pucat sekali.” Tanya Konan khawatir.

“Da-daijoubu desu.” Jawab Naruto. “Aku hanya sedikit lelah karena kemarin menemani anakku seharian.”
Jawabannya menenangkan semua orang. Kecuali satu orang tentunya. Shikamaru terus menerus memperhatikan gerak gerik Naruto. Ia sedikit curiga dengan reaksi Naruto saat melihat Uchiha Sasuke. Otak jeniusnya terus memikirkan kemungkinan yang ada.

‘Apa Haruki kenal dengan Uchiha Sasuke? Hmm sepertinya tidak mungkin. Tapi kenapa dia terlihat ketakutan?. Ini aneh, aku harus mencari tau.’

Naruto berusaha meredakan detak jantungnya yang cepat. Tidak! Ia tidak boleh dikenali saat ini. jangan sampai Sasuke mengenalinya. Benar, penyamarannya begitu sempurna. Tidak akan ada yang tau siapa dirinya. Pikir Naruto. Ia terus menyakinkan dirinya bahwa tidak akan ada yang mengenalinya saat ini.
Ia hanya perlu bersikap biasa.

Benar.

Hanya perlu bersikap biasa dan tidak akan ada hal buruk yang terjadi.

Hanya harus bersabar selama 3 bulan dan semua akan baik-baik saja.

.

.

.

Sebuah mobil benz berhenti di depan kediaman utama Keluarga Uchiha. Sang supir buru-buru membukakan pintu belakang mobil mewah itu. Seorang wanita berbaju biru muda turun dari mobil itu. Dia memandang rumah megah itu sembari tersenyum. Sopir itu mendekati sang nona dan menyerahkan sebuah bingkisan yang ada ditangannya.

Ino itu memasuki rumah bergaya jepang tradisonal itu dengan anggun. Ia sudah menyusun rencana yang rapi. Dia harus dapat membuat mantan mertuanya kembali bersimpati padanya.

‘Hanya aku yang pantas menjadi menantu keluarga ini, hanya aku. Bukan orang lain.’ Pikir Ino seraya melangkah dengan angkuh ke kediaman Uchiha itu.

.

.

.

-Flashback-

Pria itu menatap kosong jendela apartemennya. Mata biru indahnya terlihat redup seredup langit yang sejak pagi tertutup awan mendung. Entah apa yang ia rasakan sekarang ini. Setelah satu tahun, akhirnya dia kembali. Berharap dapat bahagia bersama kekasihnya. Tapi apa yang dia dapatkan.

Hanya sebuah kabar mengejutkan yang menghancurkan impiannya. Kekasih yang selama ini dirindukannya telah menikah dengan orang lain. Tidak hanya itu, kini ia bahkan sudah memiliki calon anak. Hatinya hancur lebur. Semua janji manis yang diucapkannya dulu hanyalah omong kosong belaka.

“Naruto kumohon maafkan aku. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku . . . aku hanya mencintaimu.”

“Pergilah.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. Seolah pemandangan diluar sana lebih menarik dari pria tampan yang sedang berlutut dihadapannya.

“Tidak, kumohon. Aku sangat mencintaimu. Aku . . .”

“Kubilang pergi! Apa kau tuli hah?.” Bentak pemuda pirang itu. kini dia memandang pria itu dengan penuh amarah. Tidak ada seorangpun yang tidak akan marah jika ia dikhianati bukan?. Begitupun Naruto, pria pirang itu.

Bukannya pergi, pria berambut raven itu malah berdiri dan memeluknya dengan erat. Sekalipun pemuda pirang itu terus meronta.

“Lepaskan aku brengsek, jangan menyentuhku!.”

Tidak peduli seberapa kuat pria pirang itu meronta, Sasuke tidak sedikitpun mengendurkan pelukannya. Ia tau, ialah yang bersalah disini. Seandainya saja dia bisa mengendalikan dirinya, semuanya tidak akan jadi begini.

“Wa-waktu itu aku mabuk dan . . . aku merasa melakukannya denganmu. A-aku tidak tau apa yang terjadi. Tapi pagi hari . . . dia sudah ada disamping tempat tidurku. Sungguh Naruto. Aku hanya mencintaimu. Aku akan menceraikannya setelah anak itu lahir. Aku berjanji dan  kita akan hidup bahagia selamanya.

“Bohong! Kau bohong. Hiks hiks. Kau brengsek!.” Ia histeris. Mata biru indah itu mulai mengeluarkan air mata.

“Aku mencintaimu, hanya mencintaimu. Percayalah padaku.” Ucap Sasuke. Betapa sakit hatinya saat melihat orang yang sangat dicintainya menangis histeris. “A-aku sudah menolaknya. Tapi dia hamil. Orang tuaku memaksaku menikahinya. Ma-maafkan aku Naruto.  Sungguh, aku tidak pernah menyentuhnya lagi setelah malam itu. sekalipun aku melakukannya, aku hanya melihatnya sebagai dirimu.”

Jujur, wanita itu, Yamanaka Ino, mengingatkannya pada Naruto. Mereka memiliki rambut pirang dan mata berwarna biru. Tapi tidak sedikitpun Sasuke tertarik pada gadis itu. yang ada dihati dan pikirannya hanyalah Naruto dan Naruto. Tidak ada yang lain dan tidak akan pernah ada yang lain. Naruto mulai telah setelah Sasuke meyakinkan betapa ia sangat mencintainya.

“Kalau begitu. . .” Naruto menghapus kasar airmatanya. Keputusannya sudah bulat. Dia tidak akan menyerahkan Sasuke pada siapapun termasuk pada wanita yang kini berstatus sebagai istri kekasihnya itu. ia meyakinkan dirinya bahwa Sasuke adalah haknya. Ia tidak mencuri apalagi merampasnya karena sejak awal Sasuke sudah menjadi miliknya. Jauh sebelum mereka menikah. Dan Sasuke sangat mencintainya, hanya mencintainya. Egoiskah?

“. . . Aku juga ingin menikah denganmu.”

Sasuke kaget dengan perkataan kekasihnya. Ia melepaskan pelukannya dan memandang wajah sang kekasih. Tidak ada keraguan dimata biru yang sangat disukainya itu.

“Tapi. . .”

“Kau mencintaiku bukan? Kalau begitu ayo kita menikah. Tapi kau harus tau, aku tidak mau menjadi istri keduamu. Aku mau menjadi yang pertama dan satu-satunya. Aku lebih berhak daripada wanita itu. kalau kau menikahinya karena anak, maka kau menikahiku karena cinta.”

Sasukepun akhirnya menikahi Naruto diam-diam. Sasuke membeli sebuah apartemen baru untuk mereka berdua. Mereka bahagia. Sasuke lebih sering menghabiskan waktunya diapartemen baru miliknya dan Naruto. Sasuke dan Naruto benar-benar merasakan yang namanya pengantin baru. Sesuatu yang tidak pernah Sasuke rasakan dengan Ino, istrinya. Mereka begitu terlena hingga tidak menyadari bahwa Ino, istri Sasuke yang lain, mulai mencurigai mereka. Wanita licik itu akhirnya tau hubungan suaminya dan pemuda pirang itu dari beberapa orang yang ia bayar untuk memata-matai suaminya. Tanpa sepengetahuan Sasuke, wanita itu merencanakan sesuatu yang bisa memisahkan mereka berdua. Hingga kesalah pahaman itu terjadi.

Plakkk!

“Aku sudah tidak tahan lagi!. Kau! . . . aku akan segera mengirimkan surat cerai untukmu!!!.”  Katanya dengan marah. Ia meninggalkan Naruto yang masih berdiri kaku dan memegang pipi kirinya yang terasa panas.

Tes.

Tes.

Tes.

Air matanya mengalir dengan deras.

Sebegitu cepatkah kebahagiannya harus berakhir?

Hanya 2 bulan saja?

Betapa kejamnya takdir mempermainkannya.

Dulu kedua orang tuanya yang meninggalkannya.

Sekarang orang yang dicintainya.

Bahkan lebih buruk dari itu.

Orang yang dicintainya kini mmembencinya.

Membencinya atas kesalahan yang bahkan tidak dilakukannya.

Kini tujuan hidupnya sudah tidak ada.

Kalau saja ia tidak mengingat kondisinya saat ini, mungkin ia akan bunuh diri.

Tapi tidak, ia tidak selemah itu.

Huft.

Baiklah, mari kita akhiri semuanya dan kita mulai dari awal lagi.

Sangat - sangat awal.

Naruto meletakkan sebuah map diatas meja. Map yang beberapa hari lalu diberikan oleh pengacara mantan suaminya. Ia tersenyum miris. Bahkan Sasuke tidak sudi melihatnya untuk yang terakhir kalinya.Ia sudah menandatanganinya bahkan ia sudah melegalisir perceraiannya sendiri. Tidak lupa ia meletakkan sebuah surat dengan kertas berwarna kuning diatas map itu.

Naruto mengusap perutnya dengan sayang.

“Maafkan aku yang tidak bisa mempertahankan ayahmu. Maafkan aku yang terpaksa memisahkan kalian. Tapi percayalah ini demi kebaikan kita. Aku yang akan jadi ayah untukmu. Kita akan hidup berdua, hanya berdua saja. Kita pasti bisa melalui ini semua.” Ia menghela nafas.

Naruto menarik tasnya dan melangkah pergi dari apartemen tempat ia menghabiskan waktu selama tiga bulan ini. Meninggalkan semua kenangan manis dan pahit bersama orang yang dicintainya untuk memulai hidup baru di tempat lain. Tempat yang sangat jauh. Tempat dimana tidak akan ada yang bisa mengenalinya.

-End Flashback-

.

.

.

“ . . . ruki . . . Haruki. . .”

Haruki tersadar dari lamunannya.

“Eh . . . em . . . ada apa?.”

Gadis itu, Konan, memiringkan kepalanya. “Kamu tidak apa-apa?.”

“Ya, aku hanya sedikit . . . .” Ia menjeda ucapannya. “ . . . lelah.”

Lelah dan shock.

Itulah yang dirasakan Haruki sekarang. Bagaimana tidak, setelah lama hidup tenang kini tiba-tiba saja masa lalu kembali menghampirinya. Pria manis itu terlarut dalam pikirannya sendiri hingga tidak menyadari gerak geriknya selalu diperhatikan oleh Shikamaru yang semakin curiga padanya. Ia memang tidak yakin kalau Haruki memiliki niat jahat tapi ia penasaran tentang latar belakangnya. Dia memiliki surat-surat sempurna dan resmi tapi anehnya saat dilakukan pengecekan di alamat yang tertera di suratnya, tidak ada satupun yang mengenal nama Namikaze Haruki. Benar-benar sangat aneh dan mencurigakan.

Satu kemungkinan yang ada dipikiran Shikamaru.

Haruki menghack data pemerintah dan mengubah identitasnya.

Tapi apa itu mungkin?.

Menghack data apalagi milik pemerintah bukan hal yang mudah semudah membalikkan kedua tangan.

Selain karena memiliki perlidungan berlapis, salah sedikit saja akan fatal akibatnya.

Hacker tersebut dapat dilacak dan menerima hukuman berat karena berani mengacak-acak rahasia negara.

Hacker profesionalpun akan kesulitan untuk melakukannya.

Shikamaru memikirkan kemungkinan lain lagi.

.

.

.

Sementara itu di TK, Menma sedang mengikuti pelajaran yang di berikan senseinya. Pertambahan dan pengurangan yang menurut Menma sangat membosankan. Tentu saja membosankan, karena dia sudah menguasai itu saat usianya masih 3.5 tahun. Salahkan otaknya yang terlalu cerdas hingga ia mampu berpikir diatas rata-rata.

Menma hanya memperhatikan teman-temannya yang sangat antusias dengan pelajaran yang diberikan gurunya. Guru-guru Menmapun sudah tau kemampuan Menma yang jauh melebihi usianya. Karena itu kadang mereka bingung bagaimana harus memperlakukan anak itu. mereka bahkan sudah memberi anjuran agar Menma dapat mengikuti kelas akselerasi setelah ia lulus dari TK.

Setelah jam matematika kini saatnya jam untuk melukis. Salah satu pelajaran favorit Menma. Bukan hanya karena ia menyukai menggambar tapi juga karena ia mengidolakan guru lukisnya. Iruka namanya, guru lukis di TK itu yang sangat disukai Menma. Menurutnya sifat Iruka mirip dengan sifat papanya karena itu ia merasa nyaman di dekat Iruka.

Iruka menyuruh murid-murid lucunya untuk menggambar bunga yang mereka sukai di halaman TK itu. anak-anak kecil itu tampak antusias dan mulai berpencar mencari bunga yang disukainya. Sejak dulu Iruka memang bercita-cita menjadi guru karena ia sangat menyukai anak-anak. Ia bahagia saat melihat senyum ceria murid-muridnya. Perhatianya teralih pada seorang anak kecil yang kini sedang duduk di bawah pohon sakura. Ia tampak serius. Berbeda dengan teman-temannya. Irukapun menghampirinya.

“Menma-kun.” Panggilnya.

Anak itu mendongak. “Ya, sensei?.”

“Menma tidak bergabung dengan teman-teman?.” Tanyanya.

Anak berambut raven itupun menggeleng. “Menma akan menggambar bunga itu.” Ditunjuknya sebatang bunga matahari yang tumbuh tidak jauh dari pohon tempatnya duduk.

“Bunga matahari? Menma ingin menggambar bunga matahari.”

Anak itu mengangguk. “Papa sangat suka bunga matahari.” Katanya senang. Rencananya ia akan menunjukkan gambarnya nanti pada sang ayah.

“Begitu, papa Menma suka dengan bunga matahari?.” Tanya Iruka. Dirinya memang sudah beberapa kali bertemu dengan Haruki, ayah Menma. Seorang pria yang tidak kehilangan senyumannya walau beban yang dipikulnya cukup berat. Ia tau membesarkan anak seorang diri tidaklah mudah apalagi diusia semuda Haruki. Tapi pria itu berhasil membesarkan anaknya dengan baik.

“Sebentar lagi Menma akan lulus TK bukan?. Nanti Menma akan melanjutkan kemana?.” Tanyanya.

“Umm, belum tau. Tapi Menma ingin melanjutkan di sekolah yang gratis.” Jawabnya dengan polos. “Dengan begitu papa tidak perlu lembur lagi dan bisa menemani Menma bermain.”

Iruka tersenyum mendengar jawaban Menma. Sejenius apapun, anak itu hanyalah seorang anak kecil yang masih berumur 7 tahun. Sejak masuk sekolah, Menma memang sudah mendapat banyak tawaran beasiswa karena IQnya yang sangat tinggi. Seharusnya sekarangpun Menma sudah bisa masuk kelas 6 SD tapi ditolak oleh Haruki selaku orangtua Menma dengan alasan anaknya masih terlalu kecil untuk berinteraksi dengan anak-anak yang jauh lebih tua darinya. Ia tidak ingin anaknya kehilangan masa kanak-kanaknya lantasan harus serius belajar. Haruki akan memasukkan Menma ke kelas khusus setelah ia lulus dari TK nanti.

.

.

.

@Uchiha Mansion

“Kaa-san, apa Kaa-san tidak bisa membujuk Sasuke. Tolonglah Kaa-san, aku masih mencintai Sasuke. Aku sangat mencintainya.” Pintanya pada Mikoto, sang mantan mertua. Mata birunya berkaca-kaca. Ia harus bisa membuat Mikoto berpihak padanya.

Mikoto menghela nafas. Ia sebenarnya tidak tega tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Kau tau sendiri sifat Fugaku dan Sasuke. Tidak mudah untuk membujuk mereka. Lagipula . . .” Mikoto melihat iba pada Ino.

‘Fugaku sangat menginginkan cucu yang tidak mungkin bisa didapat darimu, seandainya saja kecelakaan itu tidak terjadi. Mungkin aku masih bisa membantumu.’ Lanjut Mikoto dalam hati.

“Tapi Sasuke sangat menyayangimu Kaa-san, aku yakin dia akan mendengarmu.”

“Sudahlah Ino, lepaskan Sasuke. Dia tidak mencintaimu.” Mikoto menggenggam tangan Ino. Sebagai seorang wanita dan seorang istri ia mengerti apa yang dirasakan oleh Ino. “Lupakanlah Sasuke, mulailah hidup yang baru. Aku yakin kelak akan ada yang menerimamu apa adanya. Percayalah padaku.” Bujuk Mikoto.

“Tidak Kaa-san, aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa hidup tanpanya.” Kata Ino mulai menitikkan airmatanya.

“Ino . . .” Mikoto kasian melihat mantan menantunya itu. Ino tidak pernah merasakan cinta suaminya. Ia kehilangan bayi yang dikandungnya dan ia tidak bisa memiliki anak setelahnya. Benar-benar gadis malang. Ia bahkan tidak bisa membedakan cinta dan obsesi untuk putranya.

.

.

.

Jam dinding sudah menunjukkan angka 5. Haruki merapikan meja kerjanya dan bersiap pulang. Ia harus segera menjemput Menma. Ia segera berlari ke lift. Tidak disangka disana ia bertemu oorang yang sangat ingin ia hindari. Siapa lagi kalau bukan Uchiha bungsu.

Kesunyian memenuhi ruang lift yang sempit itu. Haruki berusaha menghindari kontak dengan Sasuke. Meski ia sangat yakin penyamarannya sempurna tapi ia tidak mau ambil resiko.

“Siapa namamu?.” Tanya Sasuke mencoba memulai obrolan.

Haruki terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab. “Namikaze Haruki.”

“Oh.”

Keheningan kembali diantara mereka.

“Oh ya, siapa nama anakmu?.”

Pertanyan itu membuat Haruki terkejut. Pasalnya ia belum pernah mengatakan pada Uchiha bungsu itu bahwa ia sudah memiliki anak. Jangankan memberitahukannya, ini bahkan kali pertamanya mereka bicara setelah Uchiha memasuki Shukaku Corp. Atau jangan-jangan . . .

“Ah maaf. Aku pernah melihatmu menggendong anak kecil berambut hitam. Jadi kukira . . .”

Haruki menghela nafas. Rupanya dia pernah melihatnya dijalan bersama anaknya. Ia bisa tenang sekarang.

“Menma, namanya Namikaze Menma.” Haruki memotong ucapan Sasuke.

Deg!.

‘Kelak jika aku memiliki anak akan kuberi nama Menma. Uzumaki Menma.’

‘Dasar Dobe, kau tidak kasian pada anak itu? Kenapa kau memberi nama yang aneh pada anak-anak?.’

‘Temeeee! Menma itu tidak aneh.’

‘Ya tidak aneh.’ Kata Sasuke. ‘Untuk maniak ramen sepertimu.’

‘Temeeeee!!!’

‘Hahahahaha’

Sasuke teringat pada kenangannya dulu. Kenangan bersama dengan orang yang kini menghilang dari hidupnya.

Tring!

Pintu lift itu terbuka, Haruki langsung melesat meninggalkan Sasuke yang masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Grep!

Tangannya dicekal. Iapun menoleh. Dibelakangnya pria itu berdiri dengan gagahnya.

“Kuantar.”

Sasuke tidak mengerti. Tubuhnya bergerak sendiri menahan pria bermata hijau kebiruan yang ada di depannya. Baru kali ini ia tertarik pada orang selain dobenya.

“Eh? Ti-tidak usah Uchiha-san.” Tolaknya dengan halus. Ia merasa tidak tenang berlama-lama dengan Sasuke.

Sasuke menarik tubuh Haruki tanpa mengindahkan kata protes dari pria itu. Ia membawa Haruki ke mobil mewahnya di tempat parkir gedung itu. ia segera melajukan mobilnya keluar dari area parkir. Sasuke bertanya dimana sekolah anknya berada. Mau tidak mau Haruki memberitahukannya pada Sasuke. Di perjalanan ke TK yang hanya berjarak 20 menit itu mereka hanya diam tanpa saling bicara.

“Papa!!!.”

Seorang anak kecil langsung berlari menghampiri Haruki ketika ia turun dari mobil mewah Sasuke. Haruki langsung memeluk anaknya dengan sayang.

“Maafkan papa terlambat.”

“Tidak apa-apa kok. Papa kan sibuk kerja buat cari uang.” Kata Menma. Haruki tersenyum mendengar perkataan Menma.

Sasuke, entah kenapa berdiri mematung melihat pemandangan ayah dan anak itu. ia tidak mengerti tapi hatinya menghangat saat melihat keduanya. Perasaan yang sudah lama tidak pernah ia rasakan. Senyumpun tersungging di wajahnya. Setelah mengucapkan terimakasih pada Iruka sensei yang telah menemani Menma, pasangan ayah dan anak itu bergegas untuk pulang. Kali ini Sasuke tidak mengantar mereka karena jarak rumah dan TK Menma hanya berjarak 10 menit berjalan kaki.

“Anakmu tampan.” Komentar Sasuke sambil tersenyum. Haruki hanya membalas dengan tersenyum kaku kemudian mengucapkan terimakasih pada Sasuke. Haruki menggendong Menma dan membawanya pulang.

.

.

.

‘Andai kau tau kalo Menma anakmu, apa yang akan kau lakukan?.’

.

.

.

-TBC-

.

.

.