Rabu, 25 Desember 2013

FF Lavender Chapter 7. I am Namikaze



Disclamer      : Semua udah pada tau, nggak usah disebutin lagi ta. Naruto isn’t mine, but this story does.

Genre             : Mpreg, Hurt, just whatever

Rate                : M for boys Story ( an maybe I will adding some lemon on it).

Warning         : Don’t like Don’read. Yaoi for sure.

.

.

.

Cast

Namikaze Naruto (30 thn)

Namikaze Yuuki (7 thn)

Uchiha Sasuke (33 thn)

Sabaku no Gaara (30 thn)

Haruno Sakura (33 thn)

Uchiha Sai (34 thn)

Uchiha Kazuki (7 thn)

.

.

.

.
 
.

.

Chapter 7. I am Namikaze

.

.

.

Naruto terbangun lebih dulu dari Gaara. Untuk  beberapa saat ia meringis kesakitan saat berusaha bangun. Bagian bawahnya terasa perih saat bergesekan dengan kain sprei. Maklumlah, sudah lama ia tidak melakukan hal seperti ini. Ia menyandarkan tubuh lelahnya di bed post. Tubuhnya kini telanjang dan hanya tertutup selimut tebal. Dada dan lehernya penuh bekas kemerahan dan cairan putih yang sudah mengering.  Ia memandang Gaara sekilas. Wajah pria merah yang ada disampingnya itu tampak damai dalam tidurnya. Ia tersenyum simpul. Naruto lalu mengalihkan pandangannya  ke jendela kaca besar di samping kiri tempat tidurnya.

Tatapan matanya berubah sendu. Ia menatap kosong langit pagi hari yang masih berwarna kuning kehitaman yang terlihat jelas dari jendela itu.

.

.

.

“Semua akan baik-baik saja.” Gumamnya pelan hampir tidak terdengar.

.

.
 
.

Sasuke terbangun dari tidurnya. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya. Berusaha mengusir kantuk yang masih menderanya. Ia mendudukkan dirinya dan bersandar pada bed post. Ia menyadari bahwa ia masih mengenakan baju yang kemarin dipakainya.

‘Mungkin aku terlalu lelah hingga langsung tertidur.’

Sasuke turun dari tempat tidurnya dan bergegas ke kamar mandi. Ia membasuh tubuhnya di bawah shower. Membiarkan air dingin membasuh tubuh sempurnanya.

Oh, tidak akan ada seorangpun yang akan meragukan kesempurnaan ragawi seorang Uchiha bukan. Meski tubuhnya tidak telalu besar. Tapi ia memiliki otot perut yang indah. Kulit putih tanpa cela, serta keangkuhan seorang Uchiha. Ia mengambil bathrobe berwarna putih yang terhantung di dinding kamar mandi dan mematut dirinya di depan cermin.

Ia menatap tajam bayangan dirinya di cermin. Sepintas terbayang pertemuannya kemarin dengan Naruto.

PRAKKK!!!

Sasuke meninju kaca besar itu hingga pecah berkeping-keping. Ia tidak peduli meski kini tangannya terluka dan berdarah. Hanya satu hal yang kini ada dipikirannya.

Naruto.

Narutonya sudah dimiliki orang lain.

Narutonya sudah tidak mencintainya.

Narutonya. . .

Tidak! Ia tidak mau memikirkannya lagi.

Naruto hanya miliknya, ya miliknya seorang.

Narutonya hanya mmencintainya.

Tanpa sadar mencengkram tepi wastafel itu.

“Aku akan mendapatkanmu kembali Naruto.”

.

.

Sementara itu di dapur lantai 1, Sakura sedang menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya walau ia tau Sasuke tidak akan mau memakannya. Ia hanya bisa memasak masakan sederhana. Hanya roti bakar, daging panggang dan telur mata sapi. Benar-benar menu sarapan ala barat. Mereka tidak memiliki pembantu seperti di rumah keluarga Uchiha ataupun Haruno karena Sasuke tidak suka ada orang asing di rumahnya jadi Sakuralah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah.

Nona besar itu berusaha menjadi istri yang sempurna untuk suami yang sangat dicintainya. Katakanlah cinta itu buta. Cinta itu penuh pengorbanan. Benarkan?. Dan ia selalu berharap pengorbanannya akan mendapat balasan yang setimpal.

Meski saat ini Sasuke masih bersikap dingin padanya,tapi ia sangat yakin suatu saat nanti Sasuke akan membuka hatinya dan saat itu mereka akan berakhir dengan kebahagiaan.

Kringg kringgg kringg –anggap nada panggilan telpon rumah, saya nggak punya telpon rumah jadi nggak tau bunyi deringnya-

Sakura buru-buru mematikan kompornya dan menuju meja yang ada telpon diatasnya.

“Moshi-moshi.”

“Sakura. Ini Kaa-san.”

“Ah hai’ Kaa-san.”

“Sasuke mana? Aku ingin bicara dengannya.”

“Sasuke belum bangun. Apa ada hal penting yang mau Kaa-san sampaikan?. Biar nanti aku yang bicara padanya.”

“Dasar anak itu. Baiklah, nanti malam kalian harus makan malam di rumah. Kemarin sepupu Sasuke datang dari Itali. Kau juga belum mengenalnya bukan?. Bagaimana? Kalian bisa?.”

“Iya kaa-san.”

“Baiklah kalau begitu. Kaa-san tunggu di rumah nanti malam.”

“. . .”

Setelah telpon terputus, Sakura meletakkan gagang telpon itu ditempatnya. Sakura terus memandang telpon itu hingga perhatiannya teralih pada sang suami yang baru keluar dari kamarnya. Lelaki itu begitu tampan dan menawan dimatanya. Lelaki yang sudah menjadi suaminya selama 8 tahun ini.

“Sasuke.”

“Apa?.” Katanya dingin. Sakura hanya tersenyum kecut. Ia tidak tau mengapa tapi akhir-akhir ini ia merasa suaminya semakin dingin padanya sama seperti 8 tahun lalu.

“Kaa-san meminta kita makan malam di rumah.”

“Baiklah.” Sasuke melewati Sakura begitu saja. Meninggalkan wanita yang menatap punggungnya dengan pandangan sendu.

“Kaa-chan.”

Panggilan itu membangunkan Sakura dari lamunannya. “Ya, Kazuki.”

“Umm.” Anak itu terlihat ragu-ragu.

“Ah sudah hampir jam 8. Ayo kita berangkat. Nanti Kazuki-chan terlambat.”

.

.

.

Mikoto menutup telfon rumahnya dan meletakkannya kembali ditempatnya. Ia melihat Sai sedang berjalan menuju pintu utama rumah itu. Penasaran, iapun memanggil pria yang sangat mirip dengan anak bungsunya itu.

“Sai.”

Pemuda dengan senyuman bisnis itupun menoleh. Dilihatnya sang bibi sedang berjalan ke arahnya. Bahkan diusianya yang tidak lagi muda, kecantikannya masih tampak mempesona. Wajar jika kepala keluarga Uchiha begitu mencintai istrinya itu.

“Kau mau kemana nak?.”

“Saya mau keluar bi, sekalian saya mau menengok teman saya yang tinggal di dekat sini.” Katanya dengan wajah datar.

“Teman?.” Mikoto bertanya-tanya. Bukankah Sai baru datang kemarin? Dan bukankan dia juga lama tinggal di luar negri? Jadi bagaimana bisa dia memiliki teman secepat ini?.

“Iya, teman kuliah saya, mereka pulang kesini beberapa hari sebelum saya dan sebelum pulang mereka memberi alamat rumahnya.” Ucapanya menjelaskan karena melihat wajah kebingungan sang bibi.

“Oh begitu. Kalau begitu baiklah. Biar sopir yang mengantarmu. Aku tidak ingin kamu tersesat di sini.”

“Arigatou baa-san.”
 
Hari ini Sai berencana mengunjungi Gaara dan Naruto. Ya, sebelum mereka kembali ke kota ini, mereka sempat memberikan alamat kondo milik Gaara.

“Paman, apa paman tau alamat ini?.” Tanyanya pada sopir kepercayaan keluarga Uchiha tersebut.

“Iya, tuan Sai. Kalau tidak salah alamat ini berada di kawasan elit.”

Benar saja, ternyata tempat tinggal Gaara adalah kondo super mewah. Yah iya maklum, bagaimanapun Gaara adalah seorang Sabaku. Seorang tuang muda dari keluarga kaya raya dan tersohor di Jepang. 

Sayangnya saat ia tiba di tempat itu, para penghuninya sedang tidak ada ditempat. Apa boleh buat, padahal ia tidak menghubungi mereka terlebih dulu untuk memberi kejutan.

.

.

.

“Nah Yuki, mulai hari ini kamu belajar disini. Jangan nakal. Nanti sore papa jemput. Pokoknya jangan pulang sebelum papa atau Gaara-jisan jemput OK.”

“Um.” Anak itu mengangguk dengan semangat.

“Selamat pagi.”

Naruto, Gaara dan Yuki menoleh. Di sana berdiri seorang wanita yang sedang menggandeng anak laki-laki sepantaran Yuki. Naruto merasa mengenal wanita itu. entah dimana, tapi ia  pernah melihatnya. Rambut merah muda itu cukup aneh dan gampang diingat.

“Perkenalkan, namaku Uchiha Sakura dan ini anakku, Kazuki. Ini hari pertamanya masuk sekolah.”

“Etto. . .um.”

“Kazuki, ayo perkenalkan dirimu.”

“Uchiha Kazuki, salam kenal.”

“Namikaze Yuki desu.” Jawab Yuki dengan senang. “ Dan ini papaku, namanya Namikaze Naruto.” Ucap Yuki polos sambil menarik tangan Naruto.

Sakura tampak terkejut.

Kedua anak itu langsung akrab satu sama lain. Inikah yang disebut ikatan darah?. Naruto tersenyum sedih melihat Yuki dan anak Sakura. Seharusnya Yuki juga menyandang nama Uchiha.

“Senang berkenalan dengan anda Sakura-san. Tapi maaf, kami terburu-buru.” Kata Gaara sambil menarik tangan Naruto. Ia tidak mau Naruto kembali teringat masa lalu. Ia tau siapa wanita itu. Wanita yang membuat Naruto menderita. Wanita yang merupakan istri dari Uchiha bungsu.

Sakura memandang punggung kedua pria itu dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.

‘Naruto?’

Itu adalah nama yang selalu di sebut Sasuke dalm igauannya.

Naruto.

Nama yang selalu membayangi rumah tangganya

‘Tidak tidak tidak, pasti bukan dia, bagaimanapun dia adalah pria. Tidak mungkin Sasuke mencintainya. Lagipula bukan hanya dia yang memiliki nama itu. iya pasti bukan dia.’ Kata Sakura dalam hati.

.

.

.

-Gaara POV-

Sejak bertemu wanita merah muda tadi, Naruto hanya duduk diam disampingku. Aku melirik dari ekor mataku, wajahnya tampak sedikit tegang.

“Naruto, apa sebaiknya kita memindahkan Yuki ke sekolah lain?.” Tanyaku sambil focus menyetir.

“Tidak apa.” Ucapnya sambil tersenyum. Senyum yang terlihat benar-benar dipaksakan.

Senyuman yang sangat tidak ingin kulihat lagi selamanya. Yah senyuman itu mengingatkanku pada Naruto beberapa tahun, saat ia terpuruk karena Uchiha brengsek itu. Saat mengetahui mengetahui dirinya hamil. Semua masa2 buruk itu, sungguh aku tidak ingin terulang lagi.

“Jangan tersenyum jika kau tak ingin melakukannya Naruto.”

-End POV-

.

.

-Naruto POV-

Hari ini adalah hari pertama Yuki masuk sekolah juga hari pertamaku menjadi dosen tamu untuk mengajar seni lukis di universitas tempatku menuntut ilmu dulu. Aku dan Gaara menjemput Yuki di rumah Temari nee dan langsung menuju sekolah baru anakku. Tapi sungguh aku tidak menyangka akan bertemu dengan dia.
Wanita itu.

Ya wanita itu.

Wanita yang membuat hubunganku dan Sasuke berakhir.

Wanita yang merebt apa yang seharusnya jadi milikku dan Yuki.

Sepertinya Gaara tau siapa wanita yang menyapaku ini. Bagaimana tidak, rambut merah muda itu bukan sesuatu yang umum dan kudengar itu adalah warna asli rambutnya.

“Senang berkenalan dengan anda Sakura-san. Tapi maaf, kami terburu-buru.” Kata Gaara sambil menarik tanganku. Ia menarikku meninngalkan wanita itu. benar-benar pengertian bukan? Hanya dia yang mengerti aku.

Gaara menarikku ke mobilnya dan sekarang disinilah kami. Mengendarai mobil merah kebanggaannya menuju tempat kerjaku yang baru. Yah, setelah aku menemui Tsunade sensei, pihak kampus langsung menawari pekerjaan sebagai dosen tamu di jurusan seni lukis modern.

“Naruto, apa sebaiknya kita memindahkan Yuki ke sekolah lain?.” Tanyanya sambil focus menyetir.

“Tidak apa.” Jawabku sambil tersenyum.

“Jangan tersenyum jika kau tak ingin melakukannya Naruto.”

Aku terhenyak kaget. Sekali lagi, sekali lagi Gaara menunjukkan bahwa ia sangat mengerti diriku.

“Ya.” Aku kembali tersenyum. Kali ini bukan senyum palsu apalagi senyum bisnis yang biasa kuperlihatkan pada kolektor.

-End POV-

.

.

.


Malam harinya Sasuke tiba di kediaman utama Uchiha bersama keluarga kecilnya. Seperti biasa, para pelayan berbaris menyambut kedatangan tuan mudanya. Sasuke berjalan dengan angkuh sementara Sakura dan Kazuki mengikuti dibelakangnya. Mikoto dan Itachi juga tampak menyambutnya.

“Sasuke, Sakura, akhirnya kalian datang juga.” Kata Mikoto yang saat ini mengenakan kimono sutra berwarna hitam dengan motif bunga tsubaki merah yang cantik.

Wanita paruh baya itu langsung menggiring keluarga kecil putra bungsunya itu ke ruang makan. Disana sudah menunggu Fugaku, Itachi dengan istrinya, Deidara ( disini Dei-chan cewe loh ya : ) ) juga seorang lagi, tamu yang dianggap istimewa malam ini. 

“Ah ya Sakura, kenalkan ini Sai, Uchiha Sai, sepupu jauh Sasuke.”

“Namaku Uchiha Sakura, Salam ke . . .” Secara reflek Sakura membungkuk untuk memberi salam ala jepang tapi saat ia mengangkat tubuhnya.

DEG!

“. . .nal.”

.

.

.

-TBC-

.

.

.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar