Selasa, 31 Desember 2013

FF Here We End Chapter 4. Who are you?




.

.

.

Disclaimer      : Naruto is not mine. I just borrow the name.

Rate                : M

Genre             : Hurt, family,Mpreg, etc.

Warning         : Ending tergantung mood. EYD yang nggak jelas, OOC, BoysxBoys, banyak typonya.

Don’t like don’t read.

Purely made by : Gothiclolita89

.

.

.

Chara

Uzumaki Naruto (Namikaze Haruki (28 tahun)

Uchiha Sasuke (28 tahun)

Namikaze Menma (7 tahun, maaf dichapter kemarin loli salah nulis umurmu 6 tahun)

Sabaku no Gaara (26 tahun)

Yamanaka Ino (28 tahun)

.

.

.

.

.

.

“Ada apa Kankurou-san?.” Tanya Shikamaru selaku ketua tim IT.

“Ah ya perkenalkan mereka ini dari Uchiha Corp. Sementara mereka akan berkantor di gedung ini selam 3 bulan kedepan. Kuharap kalian memberi hasil kerja terbaik. Iya kan Uchiha-san.”

“Kalau begitu mohon kerjasamanya.” Pria berambut raven itu mengeluarkan senyum penuh pesonanya. Ia mengedarkan pandangannya ke anggota IT hingga ia menangkap sosok yang dia kenali.

‘Ah dia kan. . .’

.

.

.

Chapter 4. Who are you?.

.

.

.

-Naruto POV-

Kenapa?

Kenapa dia muncul lagi saat aku sudah bahagia?

Kenapa takdir begitu senang mempermainkanku?.

Tidak tidak tidak. Kau harus tenang Naruto.

Dia tidak mungkin mengenalimu.

Dia tidak akan mengenali penyamaranmu yang sempurna.

-End Naruto POV-

.

.

-Sasuke POV-

“Kalau begitu mohon kerjasamanya.”

Ah, dia . . .

Aku melihat wajah itu. Wajah yang kulihat tadi malam.

Wajah yang anehnya membuatku tertarik.

Entahlah, aku seperti mengenalnya.

Tunggu dulu!

Kenapa ia tampak begitu pucat?

Apa dia sakit?

Er- atau takut padaku?

Tapi kenapa?

-End Sasuke POV-

.

.

“Karena itu mohon kerjasama kalian untuk 3 bulan kedepan. Aku sungguh berharap kalian bisa menunjukkan hasil kerja terbaik selama Uchiha-san ada di perusahaan kita.”

Naruto terus menundukkan kepalanya. Dia tidak berani melihat Uchiha itu karena takut rahasianya terbongkar. Naruto terlihat pucat dan nampaknya bukan hanya Sasuke yang menyadari hal itu.

“Haruki, kau tidak apa-apa?.”

“Apa kau sakit? Wajahmu pucat sekali.” Tanya Konan khawatir.

“Da-daijoubu desu.” Jawab Naruto. “Aku hanya sedikit lelah karena kemarin menemani anakku seharian.”
Jawabannya menenangkan semua orang. Kecuali satu orang tentunya. Shikamaru terus menerus memperhatikan gerak gerik Naruto. Ia sedikit curiga dengan reaksi Naruto saat melihat Uchiha Sasuke. Otak jeniusnya terus memikirkan kemungkinan yang ada.

‘Apa Haruki kenal dengan Uchiha Sasuke? Hmm sepertinya tidak mungkin. Tapi kenapa dia terlihat ketakutan?. Ini aneh, aku harus mencari tau.’

Naruto berusaha meredakan detak jantungnya yang cepat. Tidak! Ia tidak boleh dikenali saat ini. jangan sampai Sasuke mengenalinya. Benar, penyamarannya begitu sempurna. Tidak akan ada yang tau siapa dirinya. Pikir Naruto. Ia terus menyakinkan dirinya bahwa tidak akan ada yang mengenalinya saat ini.
Ia hanya perlu bersikap biasa.

Benar.

Hanya perlu bersikap biasa dan tidak akan ada hal buruk yang terjadi.

Hanya harus bersabar selama 3 bulan dan semua akan baik-baik saja.

.

.

.

Sebuah mobil benz berhenti di depan kediaman utama Keluarga Uchiha. Sang supir buru-buru membukakan pintu belakang mobil mewah itu. Seorang wanita berbaju biru muda turun dari mobil itu. Dia memandang rumah megah itu sembari tersenyum. Sopir itu mendekati sang nona dan menyerahkan sebuah bingkisan yang ada ditangannya.

Ino itu memasuki rumah bergaya jepang tradisonal itu dengan anggun. Ia sudah menyusun rencana yang rapi. Dia harus dapat membuat mantan mertuanya kembali bersimpati padanya.

‘Hanya aku yang pantas menjadi menantu keluarga ini, hanya aku. Bukan orang lain.’ Pikir Ino seraya melangkah dengan angkuh ke kediaman Uchiha itu.

.

.

.

-Flashback-

Pria itu menatap kosong jendela apartemennya. Mata biru indahnya terlihat redup seredup langit yang sejak pagi tertutup awan mendung. Entah apa yang ia rasakan sekarang ini. Setelah satu tahun, akhirnya dia kembali. Berharap dapat bahagia bersama kekasihnya. Tapi apa yang dia dapatkan.

Hanya sebuah kabar mengejutkan yang menghancurkan impiannya. Kekasih yang selama ini dirindukannya telah menikah dengan orang lain. Tidak hanya itu, kini ia bahkan sudah memiliki calon anak. Hatinya hancur lebur. Semua janji manis yang diucapkannya dulu hanyalah omong kosong belaka.

“Naruto kumohon maafkan aku. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku . . . aku hanya mencintaimu.”

“Pergilah.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. Seolah pemandangan diluar sana lebih menarik dari pria tampan yang sedang berlutut dihadapannya.

“Tidak, kumohon. Aku sangat mencintaimu. Aku . . .”

“Kubilang pergi! Apa kau tuli hah?.” Bentak pemuda pirang itu. kini dia memandang pria itu dengan penuh amarah. Tidak ada seorangpun yang tidak akan marah jika ia dikhianati bukan?. Begitupun Naruto, pria pirang itu.

Bukannya pergi, pria berambut raven itu malah berdiri dan memeluknya dengan erat. Sekalipun pemuda pirang itu terus meronta.

“Lepaskan aku brengsek, jangan menyentuhku!.”

Tidak peduli seberapa kuat pria pirang itu meronta, Sasuke tidak sedikitpun mengendurkan pelukannya. Ia tau, ialah yang bersalah disini. Seandainya saja dia bisa mengendalikan dirinya, semuanya tidak akan jadi begini.

“Wa-waktu itu aku mabuk dan . . . aku merasa melakukannya denganmu. A-aku tidak tau apa yang terjadi. Tapi pagi hari . . . dia sudah ada disamping tempat tidurku. Sungguh Naruto. Aku hanya mencintaimu. Aku akan menceraikannya setelah anak itu lahir. Aku berjanji dan  kita akan hidup bahagia selamanya.

“Bohong! Kau bohong. Hiks hiks. Kau brengsek!.” Ia histeris. Mata biru indah itu mulai mengeluarkan air mata.

“Aku mencintaimu, hanya mencintaimu. Percayalah padaku.” Ucap Sasuke. Betapa sakit hatinya saat melihat orang yang sangat dicintainya menangis histeris. “A-aku sudah menolaknya. Tapi dia hamil. Orang tuaku memaksaku menikahinya. Ma-maafkan aku Naruto.  Sungguh, aku tidak pernah menyentuhnya lagi setelah malam itu. sekalipun aku melakukannya, aku hanya melihatnya sebagai dirimu.”

Jujur, wanita itu, Yamanaka Ino, mengingatkannya pada Naruto. Mereka memiliki rambut pirang dan mata berwarna biru. Tapi tidak sedikitpun Sasuke tertarik pada gadis itu. yang ada dihati dan pikirannya hanyalah Naruto dan Naruto. Tidak ada yang lain dan tidak akan pernah ada yang lain. Naruto mulai telah setelah Sasuke meyakinkan betapa ia sangat mencintainya.

“Kalau begitu. . .” Naruto menghapus kasar airmatanya. Keputusannya sudah bulat. Dia tidak akan menyerahkan Sasuke pada siapapun termasuk pada wanita yang kini berstatus sebagai istri kekasihnya itu. ia meyakinkan dirinya bahwa Sasuke adalah haknya. Ia tidak mencuri apalagi merampasnya karena sejak awal Sasuke sudah menjadi miliknya. Jauh sebelum mereka menikah. Dan Sasuke sangat mencintainya, hanya mencintainya. Egoiskah?

“. . . Aku juga ingin menikah denganmu.”

Sasuke kaget dengan perkataan kekasihnya. Ia melepaskan pelukannya dan memandang wajah sang kekasih. Tidak ada keraguan dimata biru yang sangat disukainya itu.

“Tapi. . .”

“Kau mencintaiku bukan? Kalau begitu ayo kita menikah. Tapi kau harus tau, aku tidak mau menjadi istri keduamu. Aku mau menjadi yang pertama dan satu-satunya. Aku lebih berhak daripada wanita itu. kalau kau menikahinya karena anak, maka kau menikahiku karena cinta.”

Sasukepun akhirnya menikahi Naruto diam-diam. Sasuke membeli sebuah apartemen baru untuk mereka berdua. Mereka bahagia. Sasuke lebih sering menghabiskan waktunya diapartemen baru miliknya dan Naruto. Sasuke dan Naruto benar-benar merasakan yang namanya pengantin baru. Sesuatu yang tidak pernah Sasuke rasakan dengan Ino, istrinya. Mereka begitu terlena hingga tidak menyadari bahwa Ino, istri Sasuke yang lain, mulai mencurigai mereka. Wanita licik itu akhirnya tau hubungan suaminya dan pemuda pirang itu dari beberapa orang yang ia bayar untuk memata-matai suaminya. Tanpa sepengetahuan Sasuke, wanita itu merencanakan sesuatu yang bisa memisahkan mereka berdua. Hingga kesalah pahaman itu terjadi.

Plakkk!

“Aku sudah tidak tahan lagi!. Kau! . . . aku akan segera mengirimkan surat cerai untukmu!!!.”  Katanya dengan marah. Ia meninggalkan Naruto yang masih berdiri kaku dan memegang pipi kirinya yang terasa panas.

Tes.

Tes.

Tes.

Air matanya mengalir dengan deras.

Sebegitu cepatkah kebahagiannya harus berakhir?

Hanya 2 bulan saja?

Betapa kejamnya takdir mempermainkannya.

Dulu kedua orang tuanya yang meninggalkannya.

Sekarang orang yang dicintainya.

Bahkan lebih buruk dari itu.

Orang yang dicintainya kini mmembencinya.

Membencinya atas kesalahan yang bahkan tidak dilakukannya.

Kini tujuan hidupnya sudah tidak ada.

Kalau saja ia tidak mengingat kondisinya saat ini, mungkin ia akan bunuh diri.

Tapi tidak, ia tidak selemah itu.

Huft.

Baiklah, mari kita akhiri semuanya dan kita mulai dari awal lagi.

Sangat - sangat awal.

Naruto meletakkan sebuah map diatas meja. Map yang beberapa hari lalu diberikan oleh pengacara mantan suaminya. Ia tersenyum miris. Bahkan Sasuke tidak sudi melihatnya untuk yang terakhir kalinya.Ia sudah menandatanganinya bahkan ia sudah melegalisir perceraiannya sendiri. Tidak lupa ia meletakkan sebuah surat dengan kertas berwarna kuning diatas map itu.

Naruto mengusap perutnya dengan sayang.

“Maafkan aku yang tidak bisa mempertahankan ayahmu. Maafkan aku yang terpaksa memisahkan kalian. Tapi percayalah ini demi kebaikan kita. Aku yang akan jadi ayah untukmu. Kita akan hidup berdua, hanya berdua saja. Kita pasti bisa melalui ini semua.” Ia menghela nafas.

Naruto menarik tasnya dan melangkah pergi dari apartemen tempat ia menghabiskan waktu selama tiga bulan ini. Meninggalkan semua kenangan manis dan pahit bersama orang yang dicintainya untuk memulai hidup baru di tempat lain. Tempat yang sangat jauh. Tempat dimana tidak akan ada yang bisa mengenalinya.

-End Flashback-

.

.

.

“ . . . ruki . . . Haruki. . .”

Haruki tersadar dari lamunannya.

“Eh . . . em . . . ada apa?.”

Gadis itu, Konan, memiringkan kepalanya. “Kamu tidak apa-apa?.”

“Ya, aku hanya sedikit . . . .” Ia menjeda ucapannya. “ . . . lelah.”

Lelah dan shock.

Itulah yang dirasakan Haruki sekarang. Bagaimana tidak, setelah lama hidup tenang kini tiba-tiba saja masa lalu kembali menghampirinya. Pria manis itu terlarut dalam pikirannya sendiri hingga tidak menyadari gerak geriknya selalu diperhatikan oleh Shikamaru yang semakin curiga padanya. Ia memang tidak yakin kalau Haruki memiliki niat jahat tapi ia penasaran tentang latar belakangnya. Dia memiliki surat-surat sempurna dan resmi tapi anehnya saat dilakukan pengecekan di alamat yang tertera di suratnya, tidak ada satupun yang mengenal nama Namikaze Haruki. Benar-benar sangat aneh dan mencurigakan.

Satu kemungkinan yang ada dipikiran Shikamaru.

Haruki menghack data pemerintah dan mengubah identitasnya.

Tapi apa itu mungkin?.

Menghack data apalagi milik pemerintah bukan hal yang mudah semudah membalikkan kedua tangan.

Selain karena memiliki perlidungan berlapis, salah sedikit saja akan fatal akibatnya.

Hacker tersebut dapat dilacak dan menerima hukuman berat karena berani mengacak-acak rahasia negara.

Hacker profesionalpun akan kesulitan untuk melakukannya.

Shikamaru memikirkan kemungkinan lain lagi.

.

.

.

Sementara itu di TK, Menma sedang mengikuti pelajaran yang di berikan senseinya. Pertambahan dan pengurangan yang menurut Menma sangat membosankan. Tentu saja membosankan, karena dia sudah menguasai itu saat usianya masih 3.5 tahun. Salahkan otaknya yang terlalu cerdas hingga ia mampu berpikir diatas rata-rata.

Menma hanya memperhatikan teman-temannya yang sangat antusias dengan pelajaran yang diberikan gurunya. Guru-guru Menmapun sudah tau kemampuan Menma yang jauh melebihi usianya. Karena itu kadang mereka bingung bagaimana harus memperlakukan anak itu. mereka bahkan sudah memberi anjuran agar Menma dapat mengikuti kelas akselerasi setelah ia lulus dari TK.

Setelah jam matematika kini saatnya jam untuk melukis. Salah satu pelajaran favorit Menma. Bukan hanya karena ia menyukai menggambar tapi juga karena ia mengidolakan guru lukisnya. Iruka namanya, guru lukis di TK itu yang sangat disukai Menma. Menurutnya sifat Iruka mirip dengan sifat papanya karena itu ia merasa nyaman di dekat Iruka.

Iruka menyuruh murid-murid lucunya untuk menggambar bunga yang mereka sukai di halaman TK itu. anak-anak kecil itu tampak antusias dan mulai berpencar mencari bunga yang disukainya. Sejak dulu Iruka memang bercita-cita menjadi guru karena ia sangat menyukai anak-anak. Ia bahagia saat melihat senyum ceria murid-muridnya. Perhatianya teralih pada seorang anak kecil yang kini sedang duduk di bawah pohon sakura. Ia tampak serius. Berbeda dengan teman-temannya. Irukapun menghampirinya.

“Menma-kun.” Panggilnya.

Anak itu mendongak. “Ya, sensei?.”

“Menma tidak bergabung dengan teman-teman?.” Tanyanya.

Anak berambut raven itupun menggeleng. “Menma akan menggambar bunga itu.” Ditunjuknya sebatang bunga matahari yang tumbuh tidak jauh dari pohon tempatnya duduk.

“Bunga matahari? Menma ingin menggambar bunga matahari.”

Anak itu mengangguk. “Papa sangat suka bunga matahari.” Katanya senang. Rencananya ia akan menunjukkan gambarnya nanti pada sang ayah.

“Begitu, papa Menma suka dengan bunga matahari?.” Tanya Iruka. Dirinya memang sudah beberapa kali bertemu dengan Haruki, ayah Menma. Seorang pria yang tidak kehilangan senyumannya walau beban yang dipikulnya cukup berat. Ia tau membesarkan anak seorang diri tidaklah mudah apalagi diusia semuda Haruki. Tapi pria itu berhasil membesarkan anaknya dengan baik.

“Sebentar lagi Menma akan lulus TK bukan?. Nanti Menma akan melanjutkan kemana?.” Tanyanya.

“Umm, belum tau. Tapi Menma ingin melanjutkan di sekolah yang gratis.” Jawabnya dengan polos. “Dengan begitu papa tidak perlu lembur lagi dan bisa menemani Menma bermain.”

Iruka tersenyum mendengar jawaban Menma. Sejenius apapun, anak itu hanyalah seorang anak kecil yang masih berumur 7 tahun. Sejak masuk sekolah, Menma memang sudah mendapat banyak tawaran beasiswa karena IQnya yang sangat tinggi. Seharusnya sekarangpun Menma sudah bisa masuk kelas 6 SD tapi ditolak oleh Haruki selaku orangtua Menma dengan alasan anaknya masih terlalu kecil untuk berinteraksi dengan anak-anak yang jauh lebih tua darinya. Ia tidak ingin anaknya kehilangan masa kanak-kanaknya lantasan harus serius belajar. Haruki akan memasukkan Menma ke kelas khusus setelah ia lulus dari TK nanti.

.

.

.

@Uchiha Mansion

“Kaa-san, apa Kaa-san tidak bisa membujuk Sasuke. Tolonglah Kaa-san, aku masih mencintai Sasuke. Aku sangat mencintainya.” Pintanya pada Mikoto, sang mantan mertua. Mata birunya berkaca-kaca. Ia harus bisa membuat Mikoto berpihak padanya.

Mikoto menghela nafas. Ia sebenarnya tidak tega tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Kau tau sendiri sifat Fugaku dan Sasuke. Tidak mudah untuk membujuk mereka. Lagipula . . .” Mikoto melihat iba pada Ino.

‘Fugaku sangat menginginkan cucu yang tidak mungkin bisa didapat darimu, seandainya saja kecelakaan itu tidak terjadi. Mungkin aku masih bisa membantumu.’ Lanjut Mikoto dalam hati.

“Tapi Sasuke sangat menyayangimu Kaa-san, aku yakin dia akan mendengarmu.”

“Sudahlah Ino, lepaskan Sasuke. Dia tidak mencintaimu.” Mikoto menggenggam tangan Ino. Sebagai seorang wanita dan seorang istri ia mengerti apa yang dirasakan oleh Ino. “Lupakanlah Sasuke, mulailah hidup yang baru. Aku yakin kelak akan ada yang menerimamu apa adanya. Percayalah padaku.” Bujuk Mikoto.

“Tidak Kaa-san, aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa hidup tanpanya.” Kata Ino mulai menitikkan airmatanya.

“Ino . . .” Mikoto kasian melihat mantan menantunya itu. Ino tidak pernah merasakan cinta suaminya. Ia kehilangan bayi yang dikandungnya dan ia tidak bisa memiliki anak setelahnya. Benar-benar gadis malang. Ia bahkan tidak bisa membedakan cinta dan obsesi untuk putranya.

.

.

.

Jam dinding sudah menunjukkan angka 5. Haruki merapikan meja kerjanya dan bersiap pulang. Ia harus segera menjemput Menma. Ia segera berlari ke lift. Tidak disangka disana ia bertemu oorang yang sangat ingin ia hindari. Siapa lagi kalau bukan Uchiha bungsu.

Kesunyian memenuhi ruang lift yang sempit itu. Haruki berusaha menghindari kontak dengan Sasuke. Meski ia sangat yakin penyamarannya sempurna tapi ia tidak mau ambil resiko.

“Siapa namamu?.” Tanya Sasuke mencoba memulai obrolan.

Haruki terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab. “Namikaze Haruki.”

“Oh.”

Keheningan kembali diantara mereka.

“Oh ya, siapa nama anakmu?.”

Pertanyan itu membuat Haruki terkejut. Pasalnya ia belum pernah mengatakan pada Uchiha bungsu itu bahwa ia sudah memiliki anak. Jangankan memberitahukannya, ini bahkan kali pertamanya mereka bicara setelah Uchiha memasuki Shukaku Corp. Atau jangan-jangan . . .

“Ah maaf. Aku pernah melihatmu menggendong anak kecil berambut hitam. Jadi kukira . . .”

Haruki menghela nafas. Rupanya dia pernah melihatnya dijalan bersama anaknya. Ia bisa tenang sekarang.

“Menma, namanya Namikaze Menma.” Haruki memotong ucapan Sasuke.

Deg!.

‘Kelak jika aku memiliki anak akan kuberi nama Menma. Uzumaki Menma.’

‘Dasar Dobe, kau tidak kasian pada anak itu? Kenapa kau memberi nama yang aneh pada anak-anak?.’

‘Temeeee! Menma itu tidak aneh.’

‘Ya tidak aneh.’ Kata Sasuke. ‘Untuk maniak ramen sepertimu.’

‘Temeeeee!!!’

‘Hahahahaha’

Sasuke teringat pada kenangannya dulu. Kenangan bersama dengan orang yang kini menghilang dari hidupnya.

Tring!

Pintu lift itu terbuka, Haruki langsung melesat meninggalkan Sasuke yang masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Grep!

Tangannya dicekal. Iapun menoleh. Dibelakangnya pria itu berdiri dengan gagahnya.

“Kuantar.”

Sasuke tidak mengerti. Tubuhnya bergerak sendiri menahan pria bermata hijau kebiruan yang ada di depannya. Baru kali ini ia tertarik pada orang selain dobenya.

“Eh? Ti-tidak usah Uchiha-san.” Tolaknya dengan halus. Ia merasa tidak tenang berlama-lama dengan Sasuke.

Sasuke menarik tubuh Haruki tanpa mengindahkan kata protes dari pria itu. Ia membawa Haruki ke mobil mewahnya di tempat parkir gedung itu. ia segera melajukan mobilnya keluar dari area parkir. Sasuke bertanya dimana sekolah anknya berada. Mau tidak mau Haruki memberitahukannya pada Sasuke. Di perjalanan ke TK yang hanya berjarak 20 menit itu mereka hanya diam tanpa saling bicara.

“Papa!!!.”

Seorang anak kecil langsung berlari menghampiri Haruki ketika ia turun dari mobil mewah Sasuke. Haruki langsung memeluk anaknya dengan sayang.

“Maafkan papa terlambat.”

“Tidak apa-apa kok. Papa kan sibuk kerja buat cari uang.” Kata Menma. Haruki tersenyum mendengar perkataan Menma.

Sasuke, entah kenapa berdiri mematung melihat pemandangan ayah dan anak itu. ia tidak mengerti tapi hatinya menghangat saat melihat keduanya. Perasaan yang sudah lama tidak pernah ia rasakan. Senyumpun tersungging di wajahnya. Setelah mengucapkan terimakasih pada Iruka sensei yang telah menemani Menma, pasangan ayah dan anak itu bergegas untuk pulang. Kali ini Sasuke tidak mengantar mereka karena jarak rumah dan TK Menma hanya berjarak 10 menit berjalan kaki.

“Anakmu tampan.” Komentar Sasuke sambil tersenyum. Haruki hanya membalas dengan tersenyum kaku kemudian mengucapkan terimakasih pada Sasuke. Haruki menggendong Menma dan membawanya pulang.

.

.

.

‘Andai kau tau kalo Menma anakmu, apa yang akan kau lakukan?.’

.

.

.

-TBC-

.

.

.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar