Senin, 09 September 2013

Fanfic : Lavender Chapter 2

.
.
.
Disclamer: Naruto bukan punya saya( udah jelas kan)
Rate : M for hmm pengen rate M ajah hehehe.
Genre: semua masuklah. 
Purely made by GothicLolita89
.
.
.
Chapter 2. Memories
.
Hmm, where did i get this picture from???
 .
.
-Sasuke POV-

Entah sudah berapa lama aku tidak menginjakkan kakiku dirumah ini. Rumah besar tempat aku dibesarkan. Rumah utama keluarga Uchiha. Sebenarnya aku tak ingin menginjakkan kakiku di sini lagi tapi karena panggilan orang itu. Mau tidak mau aku harus datang dan menurut. Aku memencet bel rumah. Tidak lama kemudian pelayan datang membuka pintu dan menyambut kedatanganku.

" Selamat datang Tuan Muda, anda sudah di tunggu Tuan Besar di ruang kerjanya". Katanya sambil membungkuk padaku. Pria setengah baya ini adalah Butler keluarga Uchiha. Aku menyerahkan mantelku dan berjalan menuju ruang kerja ayahku. Sebuah tangga besar berukir langsung tampak jelas di hadapanku. Aku menaiki tangga melengkung itu menuju lantai 2. Aku menyusuri lorong-lorong rumah bergaya Rennaisance itu. Di dinding kanan kirinya terdapat lukisan dan hiasan mahal. Tapi bagiku semewah apapun sebuah rumah jika tidak ada kehangatan maka tempat itu tidak bisa disebut rumah, tidak lebih dari sebuah bangunan kosong belaka.

Aku membuka sebuah pintu kayu besar di ujung lorong kanan rumah megah itu .Disana dia sedang duduk di kursinya. Menghadap langsung ke pintu masuk ruangan itu. Alih-alih duduk di depan meja kerjanya, aku memilih duduk di sofa bludru di samping meja kerja pun mengikutiku dan duduk di sofa seberang tampak serius menatapku.

Fugaku Uchiha, dialah ayahku dan kepala keluarga Uchiha saat ini. Aneh memang, tapi dialah orang yang paling kubenci saat ini. Ironis bukan? Orang yang seharusnya ku hormati adalah orang yang paling ku benci. Kenapa? Aku benci semua tentang dia, tentang Uchiha. Aku bahkan pernah berharap untuk tidak di lahirkan sebagai Uchiha. Aku menjadi anak yang pembangkang di hadapan orang tuaku, beda dengan Aniki ku yang sangat penurut dan menjadi kebanggaan mereka. Tapi semua itu berubah sejak aku bertemu dengannya. Naruto mengubahku menjadi laki-laki yang baik. Hanya dia yang menerimaku sebagai 'Sasuke' tanpa embel-embel Uchiha.

" Untuk apa ayah mencariku?". Tanyaku tanpa basa basi. Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini. Rumah ini selalu membuatku tidak nyaman. Memang sejak bisa mandiri, aku memilih tinggal di apartemen yang ku tinggali sekarang bersama Naruto. Aku bahkan sangat jarang pulang ke rumah ini.

" Ck, begitukah sikapmu pada ayahmu heh".

" Sudahlah cepat katakan. Aku sedang sibuk". Kataku ketus.

" Hn". Ia lalu mengambil sebuah amplop coklat dan melemparkannya di hadapanku. "Calon tunanganmu".

" Apa?!". Aku melonjak dari sofa yang kududuki. Orang tua itu hanya tersenyum. "Aku menolak".

" Kau tidak bisa menolak. Ini perintah". Ucapnya tegas. Inilah yang aku tidak suka, Diktator.
Aku mengepalkan tanganku. "Kenapa harus aku? Kan masih ada Aniki, kemana anak kesayanganmu itu?". Benar, sejak dulu aku selalu menjadi pembangkang dalam keluarga ini beda dengan kakak laki0lakiku, Itachi Uchiha yang selalu dan selalu menjadi anak kebanggaan keluarga ini. Terakhir kudengar dia sedang melanjutkan studinya di Oxford sekaligus mengurus perusahaan yang ada di sana.

" Gadis ini menyukaimu bukan Itachi".

" Aku tetap akan menolak". Kataku sambil berdiri bersiap meninggalkan ruangan itu. Aku berjalan menuju pintu dengan marah. Laki- laki itu hanya diam tanpa menoleh. Saat aku sampai ke pintu, dia membuka suaranya. "Kau ingin kehilangan orang itu?".

Aku terhenti membeku. Kemudian aku meliriknya. Ia masih tetap tidak menoleh kepadaku. Ia menautkan jari-jarinya. Meski tak bisa melihat wajahnya aku masih bisa melihat senyuman licik di bibirnya.

" Seseorang berambut pirang dan bermata biru langit". Ucapnya datar dan singkat. Ia menoleh dan memandangku dengan mata hitamnya yang tajam. Senyum licik kini tampak jelas di wajahnya itu.
Aku terkejut dengan omongannya. Dia tau?! Sial! Dia tau tentangNaruto!.

" Jangan coba- coba menyentuhnya seujung rambutpun". Kataku sambil membanting pintu. Aku buru-buru mengambil mantelku. Tak kuhiraukan sapaan pelayan yang memintaku untuk tinggal dan makan malam. Aku harus segera pulang. Ya pulang kerumahku yang sebenarnya.
Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan penuh. Pikiranku kosong. Entah bagaimana aku bisa sampai dengan selamat di apartemenku. Setelah memarkirkan mobil di basement. Aku buru-buru menuju lift dan naik ke lantai apartemenku. Aku berlari di lorong apartemenku hingga aku menemukan apartemen yang kucari.

1069
Uchiha
Uzumaki

Tiga kata itu tertulis di pintu masuk. Aku tersenyum melihatnya. Inilah rumahku yang sebenarnya. Bukan rumah mewah keluarga Uchiha itu tapi apartemen kecil inilah rumahku. Aku menyentuh tulisan itu dengan sayang. Semoga kebahagiaan ini tidak akan berakhir. Itulah yang selalu kukatakan dalam doaku. Aku membuka pintu apartemen itu.

" Okaeri". Suara inilah yang selalu ingin kudengar saat aku pulang kerumah. Sosok itu berdiri di hadapanku. Rambutnya yang berwarna pirang serta matanya yang biru. Sosok inilah yang kuinginkan untuk mendampingi sisa hidupku. Seulas senyum tulus menghias di wajahnya yang cantik.

Aku langsung memeluknya. Tubuhku bergetar karena haru dan bahagia. "Ta-tadaima". Aku makin mengeratkan pelukanku. Aku ketakutan. Aku khawatir jika terjadi sesuatu padanya. Bagaimana jika ayah benar-benar berniat mencelakainya? Apa yang harus kulakukan? Aku takut kehilangan orang ini. Aku sadar seberapa besar cintaku padanya. Seberapa besar aku membutuhkannya.

" Ada apa?". Tanyanya. Aku hanya menggeleng pelan dan mengeratkan pelukanku pada tubuh mungilnya.

"Ayo, makan malam sudah siap. Hari ini aku menyiapkan masakan kesukaanmu lo". Ucapnya riang. Dia meminta mantel yang kupakai dan meletakkannya di cucian kotor. Kemudian kami menuju ke meja makan dan makan malam bersama. Setelah itu mereka bersantai dan berbicang ringan. Saling menceritakan kejadian seharian ini. Tapi Sasuke tidak menceritakan kepulangannya ke rumah utama kelurga Uchiha.

Tidak terasa jam dinding menunjukkan angka 11 malam. Malam ini mereka berpelukan di atas peraduan mereka. Kamar tidur sederhana dengan tempat tidur berukuran king size dan sebuah lemari kayu berwarna coklat tua. Di samping tempat tidur, ada pintu dari kaca menuju beranda. Kamar tidur itu juga di lengkapi dengan kamar mandi sehingga mereka tidak perlu keluar kamar jika ingin ke kamar mandi.

" Nee,"

" Hn". Sasuke sibuk menciumi kepala pirang itu.

" Ada apa? Hari ini kau tampak aneh". Tanyanya pada sang kekasih. Sasuke hanya terdiam.

" Tidak apa-apa". Jawabnya. Keheningan kemudian menguasai kamar tidur itu. Aku mengeratkan pelukanku ke tubuh mungilnya." Oyasumi Dobe". Ia memejamkan matanya.
.
.
.
Sasuke terbangun saat cahaya matahari pagi mulai memasuki kamarnya. Tirai di sampingnya sudah di buka lebar-lebar. Membuatnya tidak bisa memejamkan matanya lagi. Mau tidak mau ia harus bangun. Ia melihat sisi tempat tidurnya, Naruto sudah tidak ada. Ia kemudian bergegas mandi dan menuju ruang makan. Di ata meja ada sebuah mangkuk, gelas dan selembar menghampiri meja dan membaca kertas itu.

Kubuatkan sup tomat, makan ya.
Maaf aku pergi dulu. Aku akan ke universitas menemui Tsunade sensei.
-Naruto-

Sasuke tersenyum melihat note yang di tinggalkan Naruto. Ia lalu memakan sarapannya dengan tenang. Setelah sarapan ia lalu bersantai di sofa dan menonton TV. Hari ini ia tidak memiliki jadwal apapun jadi ia bebas bersantai dirumah. Waktu dengan cepat berlalu. Tidak terasa matahari mulai turun. Aku membuat kopi dan membawanya ke beranda. Menikmati senja yang berwarna orange mirip dengan kekasihku. Aku teringat kembali kata-kata ayah. Tanpa kusadari tanganku meremas mug kopi panas itu.

Bagaimana jika ayah serius akan melukai Naruto jika aku tidak menuruti kemauannya?

Bagaimana jika . . .

Ah! Aku tidak dapat berpikir. Di satu sisi aku takut dengan ancaman ayahku. Aku tau tua bangka itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Aku tidak mau hal buruk menimpa orang ku sayangi. Tapi di sisi lain aku tidak ingin kehilangan Naruto. Aku tidak bisa membayangkan kehidupanku tanpa ada dia di sisiku.

Lamunanku buyar saat ku dengar suara panggilan dari pintu. Aku buru-buru menuju pintu untuk menyambutnya

" Tadaima". Suara itu terdengar begitu menenangkan di telingaku. Kupeluk erat wangi citrusnya merasuk ke hidungku.

" Okaeri". Jawabku.

Kami masuk ke rumah. Naruto langsung menyiapkan makan malam untuk kami berdua. Memang dia yang selama ini mengurusi seluruh pekerjaan rumah tangga. Aku bahkan sudah beranggapan bahwa dia adalah istriku. Aku sudah lama mencintainya. Ah kalau ku ingat lagi. Pertemuanku dengannya adalah saat SMA. Dia adalah murid baru di SMA sedang aku seniornya. Awalnya aku tidak punya perasaan khusus padanya. Jangankan suka, aku bahkan merasa kesal karena dengan beraninya dia memanggilku Teme. Hahahaha seorang Uchiha terhormat di panggil Teme oleh seorang Dobe? Menggelikan sekali. Bahkan tidak dalam mimpi sekalipun aku bisa mencintainya seperti saat ini.

Kami bertemu lagi saat dia masuk universitas. Aku masuk pada jurusan managemen bisnis sedang dia seni rupa. Kami mulai dekat saat kami masuk organisasi yang sama. Kami sering ngobrol dan menceritakan pengalaman masing-masing. Aku sungguh terkejut saat mengetahui bahwa dia seorang yatim piatu. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan saat ia baru masuk SMA dulu. Sungguh aku tidak menduga, pemuda yang ceria itu memiliki masa lalu yang kelam. Aku simpatik padanya karena bisa melalui masa lalu yang menyedihkan dengan tegar dan penuh senyuman. Entahlah kalau aku jadi dia, mungkin aku akan memilih menyusul orang tuaku ke alam baka. Hmm awalnya aku tidak menyadari perasaan yang kurasakan padanya. Kukira aku hanya simpati padanya. Tapi semua itu berubah saat aku melihat kedekatannya dengan sahabatnya. Hmm, siapa itu namanya? Ah pemuda berambut merah dengan tattoo kanji jepang 'Ai' di dahinya. Sabaku Garaa, temannya sejak kecil. Dadaku merasa sakit setiap kali aku melihat dia sedang bercengkrama dengan Garaa. Aku benar-benar cemburu saat itu.

Ok, bukan berarti aku langsung menerima kenyataan saat sebenarnya aku menyukai Naruto yang notebene seorang pria. Oh My jashin. DEMI TUHAN!-weks niru logat orang- Aku bahkan sempat depresi selama satu bulan sebelum akhirnya menerima kenyataan bahwa seorang Uchiha Sasuke yang selama 21 tahun hidupnya adalah seorang straight-garis bawahi- STRAIGHT berubah jadi Gay hanya karena seorang Naruto. Hancur sudah harga diriku sebagai pria idaman para wanita ( para Uke juga hehehehe). Tapi rasa cintaku mengalahkan segalanya. Aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk bisa bersama seseorang yang kusukai. Tentu itu tidak mudah. Garaa, sahabat Naruto- yang aku tau pasti dengan sekali lihat dia menyukai Naruto sama sepertiku- selalu menghalangi dan bersikap sinis kepadaku. Meski pada akhirnya aku memenangkan hati Naruto. Garaa menerimanya dengan lapang dada saat melihat sahabatnya bahagia bersamaku. Sejak awal memang Garaa tidak pernah berusaha untuk mengakui perasaanya pada Naruto. Sepertinya bagi Garaa kebahagiaan Naruto lebih penting baginya.

Kini hari-hariku terasa lebih indah dan berwarna karena Naruto. Akupun memutuskan untuk keluar dari rumah dan tinggal di apartemen kecil bersama Naruto. Masih teringat jelas di ingatanku betapa bahagianya dia saat kuajak untuk tinggal bersama. Aku berharap kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir. Tapi. . .
.
.
.
" Mpph . . . Ah… ah eng. . . sa-sasuke . . .". Erangngnya. Aku melepaskan ciuman mautku untuk melihat keadaannya. Pemuda yang ku tindih itu mengerang. Wajahnya terlihat seperti buah tomat yang sangat kusukai. Ia tampak sangat sexy dengan kancing piyama yang terbuka setengahnya.

Gahhh! Aku ingin memasukkannya . . . Tidak tidak tidak aku harus bersabar . Aku tidak ingin membuat kekasihku kesakitan. Sabar sasuke kau pasti bisa.

Aku kembali menelusuri kulit kekasihku. Mencium dalam-dalam bau khas pemuda itu yang selalu membuatnya mabuk. Selalu saja dapat ku cium wangi citrus yang lembut membuatku makin mulai merangsangnya, menciumi dahinya, pipinya, bibirnya. Lalu membuat tanda di kulit putih mulusnya – hmm wait a minute bukannya si Dobe itu kulitnya tan ya? Ah sorry Author lupa maap. Maksudnya kulit tan mulusnya. Ciumanku turun ke lehernya lalu ke dadanya. Ku hisap kuat-kuat kulit itu hingga kulit itu tersenyum puas melihat hasil karyaku. Paling tidak tanda itu akan bertahan selama beberapa hari. Tangan kiriku memilin putingnya, menekannya dan memainkannya. Sedang putting kanannya ku jilat dan kuhisap. Dengan lidah kupermainkan putting kecil itu.

" Ahnn~~". Suara desahannya benar-benar membuat libido naik. Sasuke terus memanjakan patnernya dengan memberikannya ciuman panas. Tubuh tan itu kini tampak mengkilat karena keringat dan saliva. Banyak kiss mark yang tampaknya akan bertahan selama beberapa hari.

" Sa-suke . . .". Naruto memanggil namaku. Wajahnya tampak semerah gurita rebus. Matanya terlihat sayu dan nafasnya menderu. "Cepat . . . a-aku hmph". Sasuke langsung membungkam mulut pemuda itu. Ia menggigit bibir bawah pemuda itu, memaksanya untuk membuka mulutnya. Lidahnya dengan terampil masuk ke dalam mulut hangat pemuda pirang itu. Meresapi rasa yang ada di mulut itu. Tangan kirinya mulai menelusup di celana piyama Naruto. Ia menurunkan celana itu sampai ke tengah paha. Ia kemudian mencari milik kekasihnya. Setelah dapat ia pun berbisik di telinga Naruto," Kali ini akan kubiarkan kau klimaks duluan, setelah itu kau harus melayaniku sampai pagi". Sasuke menyeringai iblis.

Glek!

Naruto tau apa yang akan terjadi padanya. Sasuke mesum itu tidak pernah main-main dengan kata-katanya.

-End POV-
.
.
.
Sinar matahari mulai memasuki kamar yang masih tertutup tirai itu. Jam wekerpun sudah berbunyi nyaring. Menunjuk angka 7. Sayang penghuni kamar itu sama sekali tidak peduli, di kamar itu hanya di penuhi desahan dan erangan seorang pemuda berambut pirang. Kekasihnya sama sekali belum melepaskannya dari tadi malam. Dia sudah pasrah. Mau bagaimana lagi ia sudah tau bahwa kekasihnya itu tipe yang harus mendapatkan keinginannya walau harus memaksa. Laki-laki egois.

"mmp ahh . . . jangan . . . . di-di . . . da -ahh!-lam . . . suke". Pintanya. Pria yang di atasnya itu terus menyodokkan miliknya ke dalam tubuh tan tersebut dengan keras dan cepat. Membuat Naruto meenjerit dan mendesah. Ia tidak habis pikir kenapa Sasuke tidak pernah bosan melakukan ini padahal sejak mereka tinggal bersama mereka melakukan ini setiap hari, beberapa kali sehari malah jika keduanya tidak ada kesibukan.

" Ahh . . . no . . .dont ngh . . . inside please". Naruto mencoba mempertahankan kesadarannya untuk mencegah sang Uchiha bungsu 'keluar' di dalam tubuhnya. Bukan apa-apa, ia hanya takut sesuatu yang besar akan terjadi dan ia memiliki alasan kuat untuk tidak membiarkan si Uciha bungsu memasukkan benihnya ke dalam perutnya.

" Nghh. . . . ahh. . . yours so tight . . ." . Desah Sasuke. Lubang itu begitu terasa nikmat. Mecengkram dan memijat miliknya dengan kuat. Ia tidak tahan lagi. Ia tidak peduli lagi dengan permintaan kekasihnya yang tidak ingin ada benihnya berada di dalam tubuhnya. Kenapa? Pernah sekali Sasuke bertanya. Jawabannya sangat singkat, alasannya kesehatan, jawab Naruto. Kau taulah lubang itu untuk apa. Tidak aman, tidak higienis dan sebagainya. Terlebih lagi sang kekasih mengatakan akan kesulitan membersihkan daerah itu jika ia belepotan sperma nanti. Apalagi jika Sasuke 'menghajarnya' semalaman suntuk. Tentu rasanya akan perih bukan. Sasuke menerima alasan itu dan sejak awal ia selalu memakai pengaman saat berhubungan dengan Naruto. Dan ia selalu menyiapkan berpack-pack benda itu karena Naruto akan menolak tegas melayaninya jika ia tidak memakai benda itu. Tapi sekarang gairahnya sedang memuncak. Ia hampir klimaks untuk kesekian kalinya. Tapi pengaman yang di belinya sudah habis terpakai. Tercecer di lantai setelah di pakai 'bertarung' tadi malam. Ia tidak menyangka ia akan bertahan selama ini. Ia harus bagaimana sekarang? Menyerah pada kebutuhan biologisnya dengan ancaman kemarahan dari sang 'istri' tercinta atau menghentikan permainan setengah jalan tapi menderita kesakitan karena tidak bisa keluar.

Option number two?, hmmm hell no.

Seringaian iblis muncul di wajahnya. 'Definitly I'll choose number one'. Pikirnya. Tidak takut Naruto marah? Tentu saja tidak. Ia seorang Uchiha, kau tau?. Seorang Uchiha akan mendapatkan apapun yang ia inginkan sekalipun memaksa, iya kan?. Ia punya banyak cara agar Naruto tidak marah dan mau 'melayaninya' nanti. Ia terus mengerakkan pinggulnya dan menghantam sweat spot Naruto. Membuat pemuda itu melenguh erotis. Ia berpikir mungkin nanti ia akan memasukkan aphrodisiac di ramen laknat berlemak kesukaan Naruto atau di jus jeruknya mungkin. Agar Naruto mau melayaninya nanti malam. Hehehehe.

" Ngh . . . Sorry- no can do". Sasuke mempercepat ritmenya. Berharap ia segera bisa melepas muatannya. Ia mengeluarkan senjatanya dari lubang itu. Kemudian ia memiringkan badan Naruto ke kanan. Kemudian mengangkat kaki kiri pemuda itu ke bahunya. Dengan sekali hentakan keras ia kembali memasukkannya ke dalam tubuh kekasihnya.

" Ahh! Oh! Mmph . . . You. . .". Belum selesai ia bicara, Sasuke kembali menghantamnya keras membuatnya memdesah dan berteriak. Naruto kembali mengeluarkan sari patinya. Padahal ia sudah mengira sudah tidak bisa ejakulasi lagi. Sejak tadi malam Sasuke sudah membuatnya keluar berkali-kali. Ia bahkan sudah tidak ingat lagi berapa kali. Tidak berapa lama setelah Naruto mencapai kllimaksnya, Sasuke pun mendapatkan klimaksnya. Ia mengeluarkan spermanya di dalam tubuh Naruto. Ini adalah kali pertamanya ia keluar dalam tubuh Naruto tanpa pengaman. Sensasinya nikmat sekali. Dengan sisa tenaganya , ia mencabut kejantannya dari lubang itu. Ia dapat melihat spermanya menetes keluar dari lubang yang tampak merah karena bengkak itu. Yah, itu wajar mengingat berapa banyak ronde yang mereka lalui tadi malam.

" You . . . Baka teme". Katanya terengah-engah. Tubuhnya kini di penuhi keringat dan juga sperma hasil permainan mereka sejak semalam. Oh jangan lupakan juga kiss mark tanda kebuasan sang kekasih yang tidak akan hilang untuk beberapa hari ke depan. Ngomong-ngomong untuk beberapa hari ke depan, rasanya Naruto tidak akan bisa berjalan deh.

" Sorry Dobe, I'll wash you". Katanya sambil mencium lembut sang kekasih. Ia merasa sedikit menyesal membuat kekasihnya kepayahan seperti ini." Semua akan baik-baik saja".

Naruto memejamkan matanya. Alisnya berkerut. Entah mengapa ia merasakan firasat buruk karena ini. " Semoga saja". Gumamnya pelan.

Yang tidak mereka ketahui, ini adalah awal tali perjodohan mereka yang rumit dan berliku. Semoga mereka bisa menghadapinya.
.
.
.
Sementara itu di mansion besar Uchiha. Sang kepala keluarga tengah membaca laporan tentang kekasih anak bungsunya. Ia terlihat sangat kesal melihat laporan itu. Bagaimanapun caranya ia harus memisahkan anak itu dengan putranya. Ia meremas kertas laporan itu dan membuangnya ke tempat sampah.

" Kisame!".

" Ya , tuan".

" Beri peringatan pada anak ini". Katanya sambil melempar foto seorang pemuda berambut pirang ke hadapan anak buahnya. " Aku ingin kau melakukannya di hadapan Sasuke".

" Baik tuan". Katanya sambil membungkuk kemudian pergi dari ruangan itu.
Laki-laki paruh baya itu memandang pemandangan halamannya dari kaca besar di belakang kursinya. " Aku sudah memperingatkanmu Sasuke. Aku sudah bersabar dan kini kesabaranku sudah habis". Katanya.
.
.
.
Hari itu Sasuke sedang berjalan dengan Naruto. Mereka berencana untuk piknik hari ini. Mereka menuju taman dekat apartemennya dengan berjalan kaki. Naruto sangat senang hari itu. Ia bahkan berlari-lari kecil karena terlalu senang. Maklum, sangat jarang si Uchiha es ini punya waktu untuk jalan-jalan dengannya. Mereka berjalan melewati gang-gang perumahan yang sepi dan berliku.

" Ayo cepat Suke". Teriaknya senang. Sasuke hanya tersenyum melihat kelakuan kekanak-kanakan Naruto. Ia sangat bahagia saat ini. Mereka menuju taman di seberang jalan itu. Menuju taman yang mulai di penuhi kuncup bunga sakura. Ada beberapa kuncup yang sudah mekar. Naruto berjalan di depan Sasuke. Jalan Nampak sepi hari itu. Yah jalan ini memang jarang di lalui kendaraan apalagi mobil. Naruto berjalan di atas cat zebra cross yang berwarna putih, ia sangat senang hari ini hingga tidak menyadari. . .

" Naruto!".

-TBC-
.
.
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar