Minggu, 08 September 2013

Fanfic : Faith chapter 1

.

.

.

.

.

.

Title    : Here We End

.

.

.

Disclaimer      : Naruto isn’t mine. The original chara is own by Masashi Kishimoto but this story is purely mine.

Rate                : M

Genre             : Hurt, family,Mpreg, etc.

Warning         : Ending tergantung mood. EYD yang nggak jelas, OOC, BoysxBoys, banyak typonya. Mpreg

Mpreg on real life basically impossible at this time but possible on fanfic. So don’t be too rush ‘bout biology, OK? It only my imagination.

Don’t like don’t read.

Purely made by : Gothiclolita89.

.

.

Chapter 1. Stormy Night

.

.

.



Hujan deras mengguyur seluruh kawasan Suna. Kyubi baru saja mengisi cangkirnya dengan kopi panas untuk menghangatkan diri. Setelah itu ia berjalan ke a rah sofa empuk didepan TV. Ia menyamankan dirinya sembari menghidupkan TV besar itu.

'Malam ini benar-benar dingin' Pikir Kyubi sembari menyeruput kopinya.

Ini sudah tahun ketiga setelah ia tinggal sendiri. Ya, ia tinggal sendiri. Ia tinggal sendiri setelah memasuki jenjang kuliah dan alasan ingin mandiri itulah yang ia sampaikan kepala sang kepala keluarga Namikaze, ayahnya. Awalnya sang kepala keluarga Namikaze itu melarang keras. Bagaimanapun Kyubi adalah anak laki-laki tunggalnya namun ia tak bisa menolak keinginan Kyubi itu, ia tau betul betapa teguhnya pendirian calon kepala keluarga Namikaze tersebut. Dengan berat hati iapun mengijinkannya dengan syarat Kyubi tinggal ditempat yang sudah disediakan sang ayah.

'Sepi ' Pikir Kyubi.' Apa sebaiknya aku pulang ya? tapi dirumah ada wanita itu.'

Wanita itu. Ya, wanita itulah alasan sebenarnya Kyubi ingin hidup sendiri. Setelah bercerai ayahnya kembali menikah. Kyubi akui wanita itu buka ibu tiri yang jahat. Tapi tetap saja ia tak suka. Sampai beberapa tahun yang lalupun ia masih berharap agar sang ayah bisa kembali kepelukan mantan istrinya a.k.a ibu kandungnya. Tapi harapan itu sirna sudah karena kehadiran wanita itu.

Tok tok tok

Ketukan di pintu apartemennya membuyarkan lamunan Kyubi. Segera ia menaruh cangkirnya dan menuju ke pintu. Setelah membuka pintu, betapa kagetnya dia ketika menemukan sesosok gadis muda dengan tubuh basah kuyup. Tubuhnya gemetar menggigil karena kedinginan. Ia hanya mengenakan terusan berwarna hitam selutut tanpa lengan. Kyubi kembali tersentak kaget ketika melihat lebam dipipi gadis itu. Ada sedikit luka di tepi bibir mungilnya. Baru saja ia ingin membuka mulutnya.

" Kyu-nii"

.

.

.

Kyubi dengan cemas mengamati temannya memeriksa gadis yang terbaring ditempat tidurnya tidak sadarkan diri. Ia benar-benar cemas dan khawatir. Beberapa waktu lalu adiknya itu tiba-tiba datang dalam kondisi yang menyedihkan. Wajahnya begitu pucat dengan bibir yang membiru karena kedinginan. Tubuhnya basah kuyup diterpa hujan yang sudah membabi buta sejak pagi tadi. Ia tambah miris ketika melihat wajah cantik adiknya itu membiru karena lebam yang ia yakini bekas tamparan. Dan yang paling mengejutkannya adalah kata-kata yang keluar dari mulut adiknya.

"Kyu-nii . . ." Gadis itu membuka suaranya, Kyubi mengerutkan dahinya, ia dapat mendengar dengan jelas bahwa adiknya itu sedang ketakutan tapi karena apa?.

" . . . Tolong aku."

Mendadak tubuh gadis itu roboh. Dengan sigap ia menangkap tubuh adiknya itu. Ia sangat khawatir, tidak pernah sekalipun adiknya bersikap seperti ini.

"Naru?. Naru!."

Ia menggoyang-goyang tubuh mungil itu tapi sama sekali tidak ada reaksi. Iapun segera membawa adiknya yang pingsan ke tempat tidurnya. Segera diraihnya telpon yang ada di meja samping tempat tidurnya. Dengan cepat ia menekan no. telpon salah satu temannya yang ia ketahui merupakan seorang dokter.

"Moshi-moshi. Temari tolong segera ke apartemenku sekarang. Aku membutuhkan bantuanmu sekarang juga!."

Tidak sampai 30 menit, teman wanitanya itu datang. Kyubi langsung menggiringnya ke kamarnya. Temari, gadis itu tampak terkejut ketika melihat gadis yang terbujur tidak sadarkan diri di kamar Kyubi. Ia tau persis siapa gadis cantik itu. Naruto, ya kalau tidak salah namanya adalah Naruto, adik perempuan Kyubi.

"Ada apa ini?!."

"Sudahlah, kuceritakan nanti. Sekarang tolong periksa Naru dulu. Tiba-tiba saja ia datang kemari dan langsung pingsan."

Temari langsung memeriksa Naruto. Ia minta Kyubi untuk keluar karena ia ingin mengganti pakaian Naruto yang basah kuyup. Dengan berat hati Kyubi melangkah keluar dari kamarnya dan duduk di sofa. Ia menyangga kepalanya denga kedua tangannya. Pikirannya kalut saat ini.

Apa?! Apa yang terjadi pada Naruto?!

Pikiran itu memenuhi kepalanya saat ini. Ia kembali teringat akan perceraian orang tuanya 10 tahun lalu. Saat itu ia terpaksa berpisah dengan adik perempuannya, Naruto yang baru berumur 7 tahun. Masih segar dalam ingatannya, saat adiknya itu menangis dan tidak mau melepaskan lengan kakaknya. Pengadilan memutuskan bahwa Kyubi akan diasuh ayahnya dan Naruto akan tinggal bersama ibunya. Tidak lama setelah itu ayahnya mengajak Kyubi pindah ke Suna dan memulai hidup baru disana. Dengan susah payah ia menjalin hubungan dengan keluarga ibunya. Ia selalu menyempatkan diri untuk menghubungi Ibu dan adiknya sekedar untuk menanyakan kabar. Sampai 3 tahun lalu, Kyubi mendengar kabar bahwa ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Naruto kemudian tinggal bersama neneknya. Dan 6 bulan lalu neneknya meninggal. Kyubi langsung meminta Naruto untuk tinggal bersamanya di Suna. Tapi gadis itu menolak dengan alasan ujian kelulusan SMA. Yah mau bagaimana lagi, Naruto tidak mungkin pindah sekolah di tengah tahun ajaran kan apalagi saat ini dia kelas 3. Tinggal menunggu waktu untuk kelulusan. Naruto berjanji akan pindah ke Suna jika dia sudah lulus SMA dan akan mengambil kuliah disana.

Brak!

Lamunannya kembali buyar ketika mendengar suara pintu yang dibanting. Temari keluar dengan wajah panik. Entahlah, Kyubi merasa Temari bukan panik, tidak tidak, bukan hanya panik tapi juga ketakutan. Mendadak Kyubi merasakan firasat buruk. Dengan tergesa-gesa, ia berjalan kearah Kyubi.

"Ada apa?!." Kyubi menjadi tidak tenang saat melihat wajah Temari yang pucat.

"Mana telponmu?!."

"A-ada apa?!."

"Kubilang mana telpon mu?!." Tanpa sadar Temari membentak Kyubi. Kyubi tampak terkejut, tidak pernah ia melihat Temari sepanik ini. Hal ini makin membuat Kyubi makin was-was.

"Na-naru . . . Dia . . ."

-Temari POV-

Aku baru saja membuka pintu mobilku saat tiba-tiba telfonku berbunyi.

'Sial! Siapa sih telpon di saat seperti ini?!.'

Ku buka ponsel lipatku. Aku melihat nama 'Namikaze Kyubi' disana. Sesaat aku merasa aneh. Tidak biasanya dia menghubungiku. Biasanya dia hanya menghubungiku disaat darurat saja. Kutempelkan ponsel itu ketelingaku. Belum sempat aku menjawab tiba-tiba suara laki-laki itu terdengar.

"Moshi-moshi, Temari tolong keapartemenku sekarang. Aku membutuhkan bantuanmu!."

Sebenarnya aku mau menolak. Siapa juga mana ada yang mau jalan-jalan di hari hujan seperti ini?. Sebelum sempat menolak telpon itu sudah putus. Kesal?! Tentu saja. Siapa juga yang nggak kesal diperintah seenak udelnya seperti itu. Tapi mendengar nada bicara Kyubi yang sepertinya sedang panik akupun mengalah. Pasti ada masalah yang sangat penting hingga ia menghubungiku saat ini. Temari menghela nafas.

'Ini akan jadi perjalanan yang panjang.' Pikirnya. 

Kemudian iapun melajukan mobilnya menuju apartemen Kyubi. Tidak sampai 30 menit iapun sudah sampai. Begitu masuk ke apartemen Kyubi, pemuda itu langsung mengiringnya masuk kekamar tidurnya.

"Apa-apaan ini?! Kamu mau apa hah?!." Temari langsung panik saat Kyubi menarik lengannya dengan paksa untuk masuk kekamarnya. Tentu secara reflex ia akan meronta dan melawan.

"Ck, sudahlah cepat ikut aku."

'Kuso! Aku akan membunuhmu Kyubi kalu dia sampai macam-macam.' Temari sudah berpikiran yang bukan-bukan tentang Kyubi. Ia mengira Kyubi akan berbuat yang tidak senonoh padanya. Tapi saat ia melihat apa yang ada didalam kamar itu, pikirannya berubah. Sesosok gadis cantik berambut pirang sedang berbaring tidak sadarkan diri diranjang itu. Ia mengenali gadis itu karena ia sudah beberapa kali bertemu dengannya. Adik perempuan Kyubi, ya adik Kyubi satu-satunya.

"Naruto?!." Ia melepaskan gemgaman Kyubi dari lengannya dan setengah berlari panik kearah sisi ranjang.

"Apa yang terjadi?! Kenapa dia bisa seperti ini?!."

Kyubi berdiri disamping Temari, "Entahlah tiba-tiba Naru datang kemari dalam keadaan seperti ini dan langsung pingsan. Aku khawatir makanya aku minta kau datang."

Temari memandangi wajah Naruto yang babak belur dan lebam disana sini. Ia terdiam sejenak. Berpikir dan berharap semua firasat dan dugaannya meleset. Sebagai calon dokter dengan nilai tertinggi, ia langsung bisa menebak apa yang terjadi saat melihat luka-luka yang dialami oleh Naruto.

"Keluarlah."

"Heh?."

"Aku akan memeriksanya sekalian mengganti pakaiannya yang basah. Dia bisa kena paru-paru jika terus memakai pakaian basahkan?." Ucapnya dengan nada setenang mungkin.

Kyubi mengannguk. Ia kemudian mengambil piyamanya yang sudah kekecilan dan handuk untuk pakaian ganti Naru. Ia meletakkannya di meja disisi tempat tidurnya kemudian berjalan keluar dari kamar itu. Saat sampai di depan pintu ia sempat menoleh sebelum akhirnya keluar dan menutup pintu sepelan mungkin.
Setelah Kyubi keluar, ia mulai menanggalkan baju Naru sekalian untuk memeriksanya. Ia membelalakkan matanya begitu melihat luka di sekujur tubuh mungil itu. Tidak, bukan luka, lebih tepatnya Kissmark. Iapun mengerutkan alisnya dan membuang muka kesamping.

'Shit! Ternyata dugaanku benar!.' pikirnya.

Tanda itu tersebar diberbagai tempat. Termasuk didaerah pribadi milik Naru. Temari nampak sangat sedih dan iba. Siapa yang melakukan hal seperti ini pada gadis sekecil ini?!. Bukan hanya tanda merah, dipergelangan tangan Naru juga ada tanda lecet bekas diikat. Jelas sekali tanda perlawanan disini. Samar-samar ia dapat melihat darah yang masih menempel dipakaian dalam gadis itu. Bukan hanya darah tapi juga cairan putih yang bercampur dengan darah itu. Dan ia tau persis cairan apa itu. Ia mulai membersihkan tubuh gadis malang ini dengan air hangat dan mengganti pakaiannya dengan piyama yang diberikan oleh Kyubi.

Dengan perasaan marah bercampur sedih Temari keluar dari kamar Kyubi, ia segera menghampiri Kyubi yang sedang duduk di sofa.

"Mana Telponmu?!."

-End POV-

"Ada apa?!. Ada Apa dengan Naru?!." Kyubi mulai panik melihat kelakuan teman wanitanya itu. Temari selalu bersikap tenang saat menghadapi kondisi pasien. Tapi kali ini dia tampak lain. Ia tampak emosi dan panik.

"Na-Naru . . . dia . . ." Temari tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Kyubi tampak panik ketika melihat temari mulai terisak

"Ada apa?! Jangan membuatku panik seperti ini!." ucap Kyubi setengah membentak.

"Naru mengalami pelecehan seksual." Temari mulai menangis. Kyubi bagai dihantam petir yang mengelegar di luar apartemen itu.

"Kau- Kau bercanda. Tidak mungkin adikku . . ." ucapan Kyubi terhenti saat melihat gelengan kepala Temari. Ia pun mengepalkan tangannya.

"Brengsek! Siapa yang berani menyentuh adikku?!."

"Sudahlah. Sebaiknya kita lapor polisi dulu."

BRUKKK!

Suara itu datang dari arah kamar. Segera kyubi dan Temari berlari menuju kamar itu. Setelah membuka pintu kamar, mereka terkejut. Naru terduduk dilantai dan meringis kesakitan.

"Naru!." Kyubi langsung mengendong tubuh adiknya dan membaringkannya ke tempat tidur. Karena tiba-tiba dipeluk, gadis itupun merota. Ia tampak ketakutan. Menyadari tubuh kecil itu menegang dan gemetar, sungguh kasian. Kyubi makin mengeratkan pelukannya sembari menenangkan adiknya, "Tidak apa-apa, ini nii-chan Naru."

Perlahan tubuh gadis itupun melemas, ia kemudian mulai terisak di pelukan kakaknya. 

"Kyu-Kyu-nii." bisiknya lemah.

"Ya, tidak apa-apa. Nii-chan akan melindungimu. Tenang ya."

Naruto kembali terisak dan menangis sejadi-jadinya dipelukan kakaknya. ia memeluk tubuh kakaknya dengan sangat erat.

.

.

.

Sementara itu di Konoha.

"Sial!."

Ia memukul stir mobilnya. Menyesali perbuatannya pada gadis yang sangat dicintainya hanya karena cemburu. Menyesalpun tidak ada gunanya. Nasi sudah menjadi bubur. Gadis itu tidak akan kembali padamu. Dia tidak akan memaafkanmu.

.

.

.

Mentari pagi mulai menampakkan rupanya yan menyilaukan. Menyinari permukan tanah yang basah akibat hujan badai tadi malam. Memberi harapan akan hari yang cerah dan masa depan. Pria berambut orange itu terbangun dari tidurnya. Badannya terasa begitu lelah dan sakit. Ia melirik kearah ranjang. Melihat sosok itu masih tertidur pulas.

Ia turun dari sofa yang menjadi tempat tidurnya semalam, menghampiri tubuh gadis itu. Ia membelai lembut rambut pirang indah itu.

"Mulai sekarang kakak akan melindungimu, tenang saja. Tidak akan kubiarkan siapapun menyakitimu lagi." Ia lalu mengecup kening nya. Sejenak ia menyesali dirinya. Seandainya dulu ia memaksa Naru untuk segera pindah ke Suna, memaksanya apapun yang terjadi. Hal buruk ini takkan terjadi.

Karena tinggal menunggu acara kelulusan, Kyubi memutuskan untuk segera mengajak Naruto pindah dan Naruto pun setuju. Dengan segera mereka memindahkan barang-barang dari rumah Naru ke Suna. Temari juga menyarankan agar Kyubi menjauhkan Naru dari Konoha agar segera melupakan kejadian buruk yang menimpanya. Korban pemerkosaan bukan hanya terluka secara fisik tapi juga psikisnya. Ia akan mengalami trauma berkepanjangan jika tidak segera ditangani.

Sudah hampir dua bulan, Kyubi tinggal dengan Naru. Kyubi lega karena sekarang Naru kembali ceria seperti dulu. Gadis itu juga mulai membuka dirinya walau sampai sekarang ia tidak mau membuka mulutnya siapa yang telah menodainya. Ia tetap tidak mau membuka suaranya meski itu kepada Kyubi, kakaknya sendiri. Ya sudahlah yang penting Narunya sudah kembali seperti Narunya yang dulu, begitu pikir Kyubi. Kyubi juga membantu Naru untuk masuk ke universitasnya.

"Ukh!." Naru segera berlari ke kamar mandi. "Hoekk hoekk."

Sudah beberapa hari ini Naru selalu muntah saat matahari mulai Nampak. Ia juga sering merasa pusing dan mual. Kyubi sangat khawatir pada adiknya yang terlihat sangat lemah dan pucat itu. Naru selalu menolak saat Kyubi memintanya untuk pergi ke dokter sampai suatu hari saat pulang kerja ia menemukan Naru pingsan. Akhirnya ia kembali meminta Temari untuk memeriksa keadaan Naru. Betapa terkejutnya mereka ketika mendengar diagnose dari Temari.

Hamil!. 

Ya hamil.

Saat ini Naru tengah hamil. Naru langsung histeris ketika dia tau dirinya tengah mengandung benih dari laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya. Ia menangis histeris sambil memukul-mukul perutnya.

"Tidak aku tidak mungkin hamil!, aku tidak mungkin hamil. Itu bohong. Aku tidak mau hamil!."

Kyubi memegangi tangan Naru dan memeluknya erat. Ia tidak ingin melihat adiknya menyakiti dirinya sendiri. Hatinya hancur dan sakit melihat keadaan sang adik yang seperti ini. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia menangis. Menangisi nasib buruk adik kesayangannya itu.

'Tuhan kenapa bukan aku saja yang mengalami nasib buruk ini. Kenapa bukan aku.' Kyubi dalam hati.

Beberapa hari telah berlalu, Naru kini sudah mulai tenang dan mulai menerima keadaannya. Gadis itu sudah tampak tenang. Hari ini Kyubi harus kuliah. Sebelum berangkat berulang kali ia bertanya pada sang adik.

"Benar tidak papa?."

"Ehm." Gadis itu hanya tersenyum sembari mengangguk.

Dengan berat hati ia harus meninggalkan adiknya itu sendiri dirumah. Tanpa ia sadari keputusan ini akan sangat ia sesali.

-Naru POV-

"Benar tidak papa?." tanyanya berulang kali.

"Ehm." Aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Aku bisa melihat kekhawatirannya padaku. Sampai saat terakhir ia masuk mobilnya pun ia masih menoleh kearahku. Aku melihat mobil itu pergi dan menjauh dari rumah. Setelah kedatanganku dua bulan lalu, kakak memutuskan untuk pindah ke salah satu mansion milik ayah. Menurutnya apartemen itu terlalu sempit untuk kami berdua. Setelah yakin mobil itu sudah pergi, aku masuk kerumah. Tubuhku langsung terasa lemah dan akupun langsung merosot terduduk di lantai.

Hamil.

Aku tidak menyangka penderitaanku belum berakhir. Tak terasa titik-titik air mulai membasahi pipiku. Kupaksakan diriku menuju ke kamar mandi. Aku memandang pantulan cermin diatas wastafel itu. Sesosok gadis dengan wajah pucat membalas tatapan mataku. Naruto Uzumaki, gadis periang itu sudah tidak ada di sana. Aku kembali menangis. Sakit, ini sakit. Aku mengeratkan peganganku ke tepi wastafel.

"Hei, apa kau mau ikut denganku?." Aku mengelus perutku. "Aku tidak ingin meninggalkanmu sendiri."

Benar, sekalipun kau disini orang itu tidak akan pernah mau mengakuimu. Orang itu tidak akan pernah mencintaimu. Mencintai anak yang lahir dari Rahim wanita yang dianggapnya tidak lebih dari wanita penghibur. Mungkin sebaiknya aku harus membawamu juga.

Kubulatkan tekadku. Kuraih sebuat cutter di sisi bathtub. Aku memandang cutter itu sejenak.

"Nee, aku akan selalu menjagamu anak manis."

Cairan berwarna merah mulai membasahi ubin putih itu. Sakit!, tapi sakit ini tidak lebih sakit dari hatiku. Tubuhku terjatuh kelantai yang dingin itu. Aku sudah tidak peduli lagi. Kesadaranku mulai goyang digantikan oleh kegelapan.
.

.

.

"A-ku membencimu Sa-suke."

.

.

.
 
-To be continue-

.

.

.

~Omake~

Naru : Nee, author ini darah terbuat dari apa? Lengket2 asem manis.

Author : Gomen Naruchan Karen pasokan darah kurang (gara2 kru pada nosebleed) terpaksa kita pake darah palsu.

Naru : hee? Menarik. Pake apa?

Author : Aaa- itu . . .

Sasu : Gyaaaaaahhhh sapa yang maling jus tomatku!.(ngamuk)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar